Harga BBM RI Paling Murah di Kawasan Asia Timur

Harga BBM RI Paling Murah di Kawasan Asia Timur

- detikFinance
Kamis, 19 Mei 2011 16:33 WIB
Harga BBM RI Paling Murah di Kawasan Asia Timur
Jakarta - Harga bahan bakar minyak (BBM) Indonesia termasuk yang paling murah di wilayah Asia Timur. Subsidi BBM di Indonesia sudah tidak sesuai dengan pendapatan perkapita rata-rata masyarakat Indonesia yang telah menembus US$ 3.000 per tahun.

"Jadi dalam periode kapan pun ternyata baik harga premium maupun harga solar kita itu adalah yang paling rendah di kawasan Asia Timur. Mungkin anda langsung berargumen 'loh bukannya negara lain lebih kaya?' Karena orang selalu membandingkan antara harga BBM dengan daya beli masyarakat, paling gampang ditunjukkan dengan GDP per kapita," kata Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro dalam konferensi pers di gedung Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Kamis (19/5/2011).

Bambang mengakui, jika dibandingkan dengan Jepang, Australia, Korea, GDP perkapitanya negara-negara tersebut jauh lebih tinggi dari Indonesia. Namun perlu dilihat soal kondisi GDP Filipina, India, kemudian Malaysia serta Vietnam terutama dikaitkan dengan harga BBM-nya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita lihat Vietnam saja lah yang paling dekat, terlihat Vietnam yang GDP perkapitanya masih separuh dari Indonesia mempunyai harga BBM yang cukup tinggi kalau tidak salah mencapai satu dolar per liter," ujarnya.

Menurutnya, hal tersebut menandakan negara-negara tersebut sudah tidak lagi menggunakan subsidi untuk menjaga harga BBM dan membiarkan harga BBM dilepas sesuai harga pasar.

"Intinya, negara-negara lain sudah tidak lagi menggunakan subsidi harga untuk BBM-nya, harga BBM sudah dilepas mengikuti harga internasional, karena memang mereka umumnya adalah importir minyak. Kita, meskipun kita memproduksi minyak, tapi kita anda tahu kita itu nett importir jadi ketergantungan kita terhadap minyak impor juga masih tinggi," jelasnya.

Dengan demikian, Bambang menegaskan pemberian subsidi BBM tersebut sudah tidak cocok lagi jika disandingkan dengan pendapatan per kapita masayarakat Indonesia yang sudah merangkak naik.

"Harga saat ini yang disubsidi itu membuat kondisi Indonesia itu tidak pas dalam konteks perbandingan harga subsidi dengan pendapatan masyarakat itu sendiri, terutama kalau kita bandingkan dengan negara-negara lain," tegasnya.


(nia/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads