Pengamatan detikFinance hingga Kamis (19/05/2011) sore di Samarinda, SPBU 63.751.02 di Jl Ir H Juanda, kehabisan premium. Penutupan operasional pompa pengisian premium juga terjadi di SPBU 64.751.02 di Jl RE Martadinata, yang berada di tepi Sungai Mahakam. Demikian halnya dengan SPBU yang berada di Jl PM Noor.
Tak pelak lagi, SPBU Coco di Jl Kesuma Bangsa dan SPBU di Jl M Yamin, diserbu ratusan kendaraan roda dua dan roda empat untuk mengisi BBM premium kendaraan mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi itu, kembali dimanfaatkan pedagang eceran premium yang marak bermunculan di berbagai ruas jalan. Bahkan di antaranya, berada di depan SPBU 64.751.02 Jl RE Martadinata serta di SPBU Jl PM Noor.
Di Samarinda, setelah Rabu (18/5/2011) kemarin harga premium eceran yang dijual pedagang Rp 6.000 per liter, kini harganya terus merangkak naik menjadi Rp 6.500 hingga Rp 7.000 perliter. Harga Rp 7.000 perliter itu menyamai harga premium eceran yang dijual di Loa Ipuh, Kutai Kartanegara.
"Saya dapat bensin (premium) Rp 7.000 perliter. Padahal ini di tengah kota (Samarinda). Apalagi kalau jauh di pinggiran kota," ujar Sarif, warga Jl Otto Iskandardinata.
Sarif mengaku heran, maraknya pemberitaan terkait kelangkaan premium di Kaltim, khususnya di Samarinda, tidak menggugah pemerintah dan Pertamina, untuk turun tangan mengatasi persoalan tersebut.
"Ini sudah meresahkan, Mas. Ini fakta kalau warga kesulitan cari bensin. Kok yang berkepentingan diam saja?" ujar Sarif.
Sedangkan informasi diperoleh detikFinance selain di Samarinda, kelangkaan premium juga masih terjadi di Tenggarong Kutai Kartanegara, Bontang, Sengatta, Melak Kutai Barat serta Muara Wahau Kutai Timur.
Antrean ratusan kendaraan di Samarida untuk mengisi premium, membuat kepolisian turun tangan. Kepala Bagian Operasional Polresta Samarinda Kompol I Nyoman Mertha Dana mengatakan, dalam sepekan terakhir ini, kepolisian melakukan patroli antrean BBM, khususnya premium.
"Kalau tidak diatur antrean kendaraan bisa bikin persoalan baru, kemacetan, dan mengganggu kepentingan pengguna jalan lainnya," kata Mertha Dana.
(hen/hen)











































