Demikian disampaikan oleh Direktur Niaga dan Pemasaran Pertamina, Djaelani Sutomo dalam Rapat Dengar Pendapat bersama anggota Komisi VII di Senayan, Jakarta, Senin (23/5/2011).
"Sudah over sampai dengan kuartal satu (konsumsi premium). Sudah over. Untuk premium sudah over 2%," kata Djaelani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berdasarkan regional, ada beberapa region yang 'over' konsumsi. Di region III (Jakarta dan sekitarnya) sudah over, karena pertumbuhan kendaraan yang tinggi," ucapnya.
Djaelani juga menambahkan, konsumsi solar juga mengalami kelebihan konsumsi sebesar 2%.
"Untuk solar konsumsi yang tinggi ada di region 5, 2, dan 3. Karena, di daerah itu banyak pertambangan, di mana konsumen beralih yang selama ini beli BBM untuk industri namun beli di SPBU. Maka itu timbul antrean di SPBU. Hampir di seluruh kalimantan, begitu juga di region 6 dan 7. Banyak yang beli kebutuhan BBM-nya di SPBU, kami sudah siapkan BBM dengan harga keekonomian tapi harganya tinggi," ungkap Djaelani.
Β
Penjualan Pertamax Turun
Dalam kesempatan tersebut, Djaelani mengatakan penjualan pertamax di triwulan I-2011 menurun jauh semenjak harganya naik.
"Dari bisnis Pertamina, untuk Non PSO (non subsidi) realisasinya masih kecil, baru 5%," ungkap Djaelani.
Dirinya mengatakan dari target yang ditetapkan di 2011 sebanyak 5,67 juta KL baru tercapai sebesar 280 ribu KL di triwulan I-2011.
Padahal, target yang ditetapkan untuk penjualan pertamax d triwulan I-2011 adalah sebesar 1,41 juta KL.
"Ini juga diakibatkan karena adanya rencana pembatasan BBM untuk kendaraan sedang dan sebagainya sampai sekarang belum terealisasi, jadi pertamax Cs masih rendah sekali," keluhnya.
Selain itu, Djaelani menyampaikan tingginya harga jual menyebabkan realisasi penjualan turun.
"Kita akan berusaha untuk menambah jumlah ritel outlet SPBU yang menjual produk BBK (Bahan Bakar Khusus)/Non PSO untuk mempermudah konsumen memperoleh produk BBK," janjinya.
(nrs/dnl)











































