Pertamina Klaim Penjualan Pertamax Stabil Meski Mahal

Pertamina Klaim Penjualan Pertamax Stabil Meski Mahal

- detikFinance
Selasa, 24 Mei 2011 07:03 WIB
Jakarta - PT Pertamina (persero) mengaku penjualan Pertamax tidak mengalami peningkatan jika dibandingkan tahun lalu karena harganya yang terus menanjak mengikuti tren kenaikan harga minyak.

Demikian disampaikan oleh VP Corporate Communication Pertamina, Mochammad Harun ketika ditemui di gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin malam (23/5/2011).

"Saat ini sebetulnya stabil, ya biasalah kan harganya naik," ujar Harun. Seperti diketahui, harga pertamax di Jabodetabek saat ini mencapai Rp 9.250 per liter, atau lebih mahal ketimbang pesaing Pertamina lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menambahkan, jika dilihat dari ketika harga Pertamax naik menjadi Rp 8.500/liter hingga kini tidak terlalu jauh penurunan konsumsinya.

Dia juga mengatakan konsumsi BBM Non subsidi tersebut masih stabil ketika harganya pada tengah Mei lalu menyentuh angka Rp 9.250/liter dari Rp 9.050/liter.

"Relatif stabil karena mereka yang beli adalah orang yang memang perlu dan loyal," lanjutnya.

Namun jika dibandingkan dengan penjualan Pertamax tahun lalu, Harun mengakui penjualan tahun ini menurun.

"Kita berharap meningkat sebetulnya, tapi kita lihat kebijakan berikutnya, kan kita belum tahu. Ini masih triwulan pertama. Masih terlalu prematur kalau kita putuskan turun atau apa (harganya)," tutur Harun.

Seperti diketahui, sebelumnya Djaelani Sutomo selaku Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina mengatakan bahwa konsumsi Pertamax pada triwulan pertama 2011 hanya mencapai realisasi pada angka 280 ribu KL. Angka tersebut masih jauh dari target yang ditetapkan untuk triwulan pertama saja sebesar 1,41 juta KL.

Menanggapi hal tersebut, Harun menyampaikan bahwa target triwulan pertama tersebut dipatok Pertamina ketika pemerintah sedang bersiap melakukan kebijakan pembatasan BBM subsidi yang belum direalisasikan sampai sekarang.

Sehingga, untuk menyikapi adanya kemungkinan peningkatan konsumsi Pertamax akibat adanya pembatasan BBM Subsidi (Premium Cs) maka target sebesar 1,41 juta KL tersebut diusung oleh Pertamina.

"Karena kan gini, waktu itu perkiraannya program pembatasan subsidi itu kan direncanakan Oktober (2010), lalu bergeser ke Januari, dan bergeser lagi ke April. Nah, sekarang kita tidak tahu kapan (tidak jadi). Nah, ketika RKAP kita susun, kita sudah tau nanti akan ada pembatasan BBM subsidi sehingga angka tersebut (target konsumsi Pertamax) kita 'book' ke dalam penjualan kita," jelas Harun.

(nrs/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads