Hal ini disampaikan oleh Vice President Corporate Communication Pertamina M. Harun kepada detikFinance, Rabu (25/5/2011).
"Untuk elpiji 12 kg ini kita jual Rp 5.850/kg. Sementara harga pasarnya sebenarnya saat ini di kisaran Rp 12.000/kg, jadi tiap kilo kita rugi sekitar Rp 6.000. Yang kita tanggung tiap tabung 12 kg sekitar Rp 72 ribu," tutur Harun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat ini perbedaan harga elpiji 12 kg dan 3 kg adalah Rp 1.600 per kilonya. Ini saja sudah banyak pengoplosan. Bagaimana jika harganya dinaikkan, maka pengoplosan makin marak dan ini membahayakan," kata Harun.
Harun mengatakan, kerugian Pertamina tiap menjual elpiji 12 kg ini bisa makin tinggi karena harga elpiji mengikuti kenaikan harga minyak yang terjadi.
"Saat ini agar repot bagi kami untuk menaikkan harga. Kami ingin menahan disparitas agar tak terlalu tinggi," ujarnya.
Tiap tahun, penjualan elpiji 12 kg ini mencapai 1 juta metric ton. Ini yang harus ditanggung oleh Pertamina. "Soal kerugian ini kami sudah menyampaikan ke pemegang saham. Kita ingin adanya stabilitas elpiji," kata Harun.
Pertamina sebelumnya mengaku mengalami kerugian Rp 1 triliun dalam 3 bulan di triwulan I-2011 dari penjualan 12 kg yang tidak disubsidi pemerintah tersebut.
(dnl/qom)











































