Demikian disampaikan oleh Direktur Umum Pertamina Waluyo dalam pelaksanaan groundbreaking terminal gas yang berlokasi Muara Karang, Jakarta, Jumat (27/5/2011).
"Pembangunan FSRT Jawa Barat ini menjadi milestone infrastruktur LNG di Indonesia, di mana setelah kurang lebih 30 tahun negara kita memproduksi LNG, baru saat ini LNG dimanfaatkan untuk kebutuhan dalam negeri mengingat adanya infrastruktur FSRT tersebut," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Proyek ini diwujudkan oleh PT Nusantara Regas yang merupakan perusahaan patungan Pertamina (60%) dan PGN (40%)," lanjut Waluyo.
Adapun FSRT ini direncanakan akan beroperasi pada Januari 2012 dengan kapasitas 3 juta ton LNG per tahun atau setara dengan penyaluran 400 juta kaki kubik gas bumi per hari (MMSCFD).
"Ini akan dimanfaatkan untuk pembangkit listrik PLN Muara Karang dan Tanjung Priok Jakarta," imbuhnya.
Sejauh ini, pasokan LNG yang diterima FSRT adalah sebesar 1,5 juta ton per tahun (200 mmscfd) yang berasal dari Kontraktor Blok Mahakam di Kalimantan Timur.
"Maka itu sedang diupayakan tambahan pasokan LNG sampai mencapai kapasitas maksimal," jelas Waluyo
Dikatakan, bahwa FSRT ini merupakan teknologi baru di dunia dalam penyimpanan dan regasifikasi LNG. "FSRT Jawa Barat ini merupakan FSRT dengan sistem bongkar muat LNG dari kapal ke kapal (ship to ship) yang pertama kali di Asia dan merupakan FSRT ke-12 di dunia," tutur Waluyo.
Β
"Jika dibandingkan dengan terminal LNG di darat, biaya pembangunan serta pengoperasian lebih murah. Ditambah dengan waktu pembangunan yang singkat dan dapat dilakukan mobilisasi dengan mudah. Jadi cocok untuk Indonesia yang merupakan negara kepulauan," terangnya.
Kemudian, jika sudah beroperasi penuh, diharapkan dapat mengurangi subsidi Pemerintah atas pembelian BBM oleh PLN.
"Nantinya akan dibangun jaringan pipa di bawah laut sepanjang 15 Km dengan ukuran 24 inch untuk mengalirkan Gas Bumi hasil regasifikasi LNG dari FSRT ke Pembangkit listrik di Muara Karang," ungkapnya.
Seperti diketahui, pembangunan fasilitas LNG ini dilakukan secara serempak dengan pencanangan proyek-proyek grounbreaking MP3EI yang dilakukan di empat lokasi berbeda di Indonesia, yakni Sei Mangke (Sumatera Utaa), Cilegon (Jawa Barat), Lombok Timur (NTB), dan Timika (Papua) untuk 17 proyek-proyek besar yang lain.
(nrs/dnl)











































