Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita Legowo menyatakan perkembangan harga minyak pada awal 2011 naik secara signifikan karena adanya aspek non fundamental.
"Faktor-faktor geopolitik misalnya Maret gempa tsunami di Jepang, krisis politik di Nigeria, terbakarnya kilang Libia, krisis utang Eropa, tertembaknya Osama, banjir sungai di Missisipi yang menyebabkan harga minyak naik," ujarnya saat ditemui dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR yang diadakan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (30/5/2011).
Β
Dia menyebutkan perkembangan terakhir harga minyak dunia pada penutupan perdagangan dipublikasi dan bursa-bursa minyak dunia pada 27 Mei 2011, yaitu WTI US$ 100,59 per barel, Brent US$ 115,03 per barel, Dubai US$ 109,21 per barel, Minas/SLC US$ 120,41 per barel, sedangkan harga ICP hingga Mei ini mencapai US$ 115,05 per barel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada yang menyebabkan harga naik tapi ada juga yang menyebabkan harga turun," jelasnya.
Tahun depan, permintaan minyak dunia sedikit meningkat, stok minyak USA dan dunia serta cadangan produksi OPEC sedikit berkurang, tetapi belum memberikan dampak yang signifikan pada harga minyak.
Suplai dari OPEC dan non OPEC meningkat sehingga menyebabkan harga minyak turun.
Namun sayangnya, ada beberapa hal yang menyebabkan harga minyak naik yaitu melemahnya dolar AS dan masih berlanjutnya ketegangan Afrika Utara Timur Tengah masih tetap tinggi.
Melihat faktor-faktor tersebut, Evita menyatakan pihaknya memperkirakan asumsi ICP dalam RAPBN 2012 yaitu pada kisaran US$ 75-95 per barel.
"Para spekulan pelaku bursa komoditas memperkirakan harga minyak dapat melambung di atas US$ 100 per barel apabila pasokan minyak dari OPEC terganggu, tapi kita perkirakan ICP tahun 2012 sekitar US$ 75-90 per barel," pungkasnya.
(nia/dnl)











































