Demikian disampaikan Mochammad Harun selaku VP Corporate Communication Pertamina kepada detikFinance, Jakarta, Jumat (3/6/2011).
"Kita juga nggak mau merugi di situ, nggak mungkin dong menjual BBM non subsidi tapi merugi. Kan harganya sekarang kita buat dengan model klaster," jelasnya ketika ditanya mengenai perkembangan penjualan pertamax sejauh ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk yang sempat pindah ke premium, kita harapkan bisa mendorong mereka untuk kembali ke pertamax," katanya.
Namun, Harun menyampaikan sejauh ini hal tersebut hanya bersifat sukarela. Konsumen dapat memilih untuk membeli BBM yang mereka inginkan.
Sehingga Pertamina selaku operator penjual BBM tidak bisa melarang mana-mana pelanggan yang seharusnya diperbolehkan membeli BBM subsidi atau pun non subsidi.
"Kita kan aturannya nggak ada (aturan untuk membatasi konsumsi/pembelian BBM)," terang Harun.
Sejauh ini, pihak Pertamina sendiri masih mengandalkan para konsumen 'loyal' yang masih tetap membeli pertamax berarapun harganya mengalami kenaikan.
Dia juga mengatakan, Pertamina tidak melakukan kampanye-kampanye yang bersifat 'masif' dalam rangka mengambil hati para konsumen untuk membeli pertamax.
"Kita hanya ada beberapa kampanye, misalnya untuk pelanggan produk pertamax dan Fastron. Dari pembelian itu, mereka dapat struk yang nantinya diundikan," ucap Harun.
(nrs/dnl)











































