Hal ini disampaikan berdasarkan hasil survei dari GE Energy yang diterima detikFinance melalui siaran persnya, Jakarta, Jumat (3/6/2011).
Menurut survei tersebut, hanya sebanyak 1% responden yang dapat mengidentifikasi energi panas bumi sebagai energi terbarukan. Padahal Indonesia memiliki poteni yang sangat besar di dunia untuk panas bumi (geothermal).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan di antara responden yang dapat dengan akurat menyebutkan sumber energi terbarukan, contoh terbanyaknya adalah tenaga surya yang disebut oleh 1 dari 4 orang, dan diikuti dengan tenaga arus air (hidro) serta angin.
"Hal positifnya adalah: saat contoh-contoh sumber energi terbarukan ditunjukkan kepada responden, serta manfaatnya yang tidak terbatas dijelaskan, 9 dari 10 orang menyatakan bahwa energi terbarukan mutlak diperlukan jika kita peduli terhadap lingkungan," tanggap Widhyawan Prawiraatmadja, selaku Country Executive dari GE Energy Indonesia.
Dirinya percaya, hal tersebut mengisyaratkan masyarakat Indonesia pada dasarnya sangat peduli terhadap lingkungan, dan mendukung rencana peningkatan kelestarian lingkungan. Apalagi jika rencana tersebut berdampak positif bagi kehidupan sehari-hari.
Saat ini, lanjutnya, Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya energi, sekaligus sebagai konsumen energi terbesar di kawasan ASEAN, dengan permintaan akan energi yang diproyeksikan meningkat 7% per tahunnya selama 10 tahun ke depan.
"Kecuali di sektor minyak, Indonesia telah dapat mencukupi diri sendiri dalam soal suplai energi. Tapi, kondisi ini bergantung kepada sumber energi yang tak terbarukan, dengan bahan bakar fosil sebesar hampir 70% dari total energi primer, dan 84% dari total bahan bakar pembangkit listrik. Peningkatan penggunaan energi terbarukan akan bertambah krusial jika Indonesia bertekad untuk melestarikan sumber daya alamnya untuk generasi yang akan datang," terangnya.
Dirinya juga menegaskan pentingnya mengakses adangan gas metana di lapisan batubara (Coal Bed Methane/CBM). Cadangan CBM Indonesia diperkirakan hampir tiga kali lipat cadangan gas alam dan itu bisa digunakan untuk usaha elektrifikasi.
"CBM tak hanya lebih murah dari diesel, namun juga menggunakan teknologi pembakaran yang lebih bersih untuk kepentingan pembangkitan listrik. Penggantian diesel dengan CBM akan meningkatkan kualitas udara kita, yang pada akhirnya akan memberi manfaat bagi setiap warga Indonesia," ungkap Widhyawan.
(nrs/dnl)











































