Menjelang semester II-2011, pemerintah masih belum melakukan langkah konkret mengatasi BBM subsidi yang sudah 'bobol' dari kuota 2011 sejak April lalu. Hingga kini belum terlihat langkah yang diambil, apakah itu membatasi BBM Bersubsidi atau menaikkan harga premium.
"Kami menyiapkan beberapa opsi seperti yang kami sampaikan kemarin, dan di kami belum ada opsi untuk menaikkan (premium). Kami masih terus siapkan beberapa opsi," tanggap Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM Evita Herawati Legowo ketika ditemui wartawan, Jakarta, Selasa (7/6/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika ditanya lebih lanjut, Evita enggan menjawab opsi apalagi yang sedang disusun. "Perlu diketahui, kecenderungan harga minyak bumi dunia sedang menurun. Puncaknya berada di akhir April. Mei kemarin turun, sekarang mulai turun lagi," tukas Evita.
Sejauh ini, lanjutnya, Evita masih mengusahakan untuk menjaga kuota BBM bersubsidi di tahun ini yang sebanyak 38 juta kiloliter (KL) tidak 'bobol' sampai akhir tahun.
"Yang jelas kita masih jaga kuotanya, sekarang ini premium yang terang sudah lewat hingga 3-4%," katanya.
Evita juga menambahkan, untuk saat ini, harga minyak bumi Indonesia (ICP/Indonesian Crude Price) sudah berada di tingkat US$ 115 per barel, dengan rata-rata 12 bulan ke belakang sudah berada di atas 10% asumsi makro, yakni US$ 96 per barel.
Seharusnya, pemerintah saat ini sudah bisa menaikkan harga premium, mengingat disparitas harganya dengan pertamax masih cukup lebar (Rp 4.500/liter vs Rp 8.450/liter).
"Kementerian ESDM juga belum bisa beri kepastian soal pengaturan BBM," tegasnya sekali lagi.
(nrs/dnl)











































