Jatah Bensin Premium 'Bobol' 2,62 Ribu Kiloliter per Hari

Jatah Bensin Premium 'Bobol' 2,62 Ribu Kiloliter per Hari

- detikFinance
Selasa, 07 Jun 2011 15:55 WIB
Jatah Bensin Premium Bobol 2,62 Ribu Kiloliter per Hari
Jakarta - Sampai 31 Mei 2011 konsumsi BBM Bersubsidi jenis premium ternyata masih berada 4,1% di atas kuota harian yang ditentukan pemerintah. Dari jatah 63,54 ribu kiloliter (KL) per hari, realisasinya mencapai 66,16 ribu KL.

Demikian disampaikan oleh Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) Evita legowo dalam rapat kerja bersama dengan Komisi VII DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (7/6/2011).

"Seperti diketahui, realisasi konsumsi BBM bersubsidi terus meningkat sejak Februari dan terus berlanjut pada Mei 2011. Konsumsi premium per 31 Mei sudah 66,16 ribu KL/hari, sudah 4,1% di atas kuota yang ditetapkan," jelas Evita dalam pemaparannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara rinci, melalui bahan pemaparan yang disampaikan, realisasi untuk tiga jenis BBM bersubsidi hingga 31 Mei 2011 adalah sebagai berikut:


  • Premium: 66,16 ribu KL/hari (4,1% di atas kuota 63,54 ribu KL/hari)
  • Minyak Tanah: 5,16 ribu KL/hari (18,6% di bawah kuota 6,34 ribu KL/hari)
  • Solar: 37,79 ribu KL/hari (5,4% di atas kuota 35,85 ribu KL/hari)
Adapun, untuk diketahui, kuota BBM Bersubsidi yang ditetapkan di 2011 adalah sebagai berikut:


  • Premium: 23,19 juta KL (63,54 ribu KL/hari)
  • Minyak Tanah: 2,32 juta KL (6,34 ribu KL/hari)
  • Solar: 13,08 juta KL (35,85 ribu KL/hari)
Jika dibandingkan antara realisasi per 31 Mei 2011 dan kuota yang sudah ditetapkan di 2011, maka konsumsi premium dan solar masih melebihi jatah per harinya. Hanya minyak tanah yang bisa ditekan konsumsinya.

Menanggapi hal tersebut, Evita menyampaikan pertumbuhan penduduk yang selalu meningkat dari tahun ke tahun ditambah adanya pertumbuhan jumlah kendaraan.

"Disparitas harga BBM subsidi dan non subsidi (premium vs pertamax) masih tinggi dan juga masih adanya pertambangan liar (PETI) seperti di Bangka, Kalimantan, dan Kendari masih menyebabkan excess penambahan volume BBM bersubsidi tersebut," tukas Evita.


(nrs/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads