Hal tersebut pun berdampak pada program-program milik PLN yang harus dievaluasi kembali. Baik dari segi proyek jaringan, distribusi, hingga pembangkit.
"Setiap turun 1% (margin), maka PLN kehilangan kemampuan mencari dana Rp 15 triliun. Sehingga kita perlu melakukan reklasifikasi atas proyek-proyek di tahun 2012 karena adanya penurunan margin tersebut," jelas Setyo Anggoro Dewo, selaku Direktur Keuangan PLN ketika ditemui wartawan di Senayan, Senin malam (21/6/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di tahun 2011, seluruh dana untuk investasi di bagian distribusi jaringan adalah Rp 15 triliun. Maka proyek PLN dalam distribusi bisa terganggu dan perlu dievaluasi, termasuk jaringan, dan juga pembangkit. Padahal PLN sendiri diminta untuk meminta menaikan rasio elektrifikasi, jadi justru terganggu," ungkap Dewo.
Dewo menambahkan, hal tersebut masih hitungan kasar. Pihak PLN sendiri sedang melakukan kajian atas dampak signifikan dari turunnya margin PLN sebesar 7% untuk selanjutnya dipaparkan kepada pemerintah.
"Ini masih harus dikaji, harus dievaluasi, mana-mana proyek yang kemungkinan ditunda. Bukan berarti tidak jadi dilaksanakan ya, tapi ditunda," katanya.
Pihak PLN sendiri lebih memilih untuk margin perusahaannya tetap di angka 8%, hal tersebut sudah disesuaikan dengan road map yang ada.
Sebelumnya, Pemerintah dan Komisi VII DPR sepakat memangkas margin listrik PLN dari 8% menjadi 7% di 2012. Sementara subsidi listrik tahun depan disepakati maksimal Rp 55 triliun.
Direktur Bisnis dan Manajemen Risiko PLN, Murtaqi Syamsudin juga sempat menambahkan, bahwa dengan margin 8% maka PLN dapat berjalan dengan program normal yang sudah direncanakan.
"Kita dengan program yang normal, selama ini dengan diberikan margin 8%, tahun kemarin kita bisa mempush penambahan pelanggan sampai di atas 2 juta. Nah kalau jadi 7% (margin), maka program rasio elektrifikasi bisa terpengaruh. Kalau itu terpengaruh maka pembangunan infrastruktur dan kemampuan menambah menyambung pelanggan baru bisa terpengaruh. Akibatnya bisa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi," tutur Murtaqi.
Namun Murtaqi juga mengatakan hal tersebut masih dalam perkiraan. Dimana PLN sedang melakukan kajian atas turunnya margin menjadi 7% tersebut.
"Sekarang beginilah, Capex PLN tiap tahunnya biasanya Rp 40-45 triliun. Dengan dikurangi 1%, maka berkurang Rp 15 triliun. Berarti kurang 1/3 dari kemampuan untuk menambah infrastruktur. Jadi kita perlu menghitung ke arah situ, kita sedang intens melakukan perhitungkan tersebut. Ini perlu dipertimbangkan," ucapnya.
(nrs/ang)











































