Demikian disampaikan Ketua umum Aklindo (Asosiasi Kontraktor Listrik Indonesia) Andi Amir Husry ketika ditemui di Hotel Sahid Jakarta, Rabu (22/6/2011).
"Soal tarif itu (biaya penyambungan listrik) tidak ada standar baku di lapangan," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, beberapa pelanggan ada yang meminta supaya kualitas kabel jaringan yang disambungi ke rumahnya merupakan kabel yang bagus, sehingga biaya penyambungan bisa menanjak.
"Ada (pelanggan) yang minta pakai kabel bagus, belum lagi ada yang minta dipasangi titik lampu dengan jumlah yang banyak. Hal ini jelas beri pengaruh kepada biaya instalasi," ungkap Amir.
Sehingga, menurutnya adanya perbedaan harga penyambungan listrik antara satu rumah dengan rumah lain disebabkan karena kondisi riil yang berbeda di lapangan.
"Jadi tergantung kondisi riil, dan ada biaya tambahan karena tadi. Ada unsur lokasi, tambahan tiang dari tiang existing, panjang kabel, dan sebagainya. Makanya ada biaya yang beda dari satu rumah dengan rumah lain. Biaya penyambungan antara rumah yang dipinggir jalan dengan rumah yang letaknya jauh dari jaringan kan beda," ujar.
Seperti diketahui di beberapa konsumen listrik di daerah ada yang mengeluh karena biaya pemasangan listrik yang terbilang mahal. Bahkan ada yang sampai harus membayar Rp 2 juta-Rp 5 juta. Banyak yang mensinyalir mahalnya biaya penyambungan diakibatkan adanya calo dan harga yang ditetapkan kontraktor listrik begitu tinggi.
(nrs/hen)











































