Semula pemerintah menetapkan target produksi minyak di 2011 rata-rata adalah 970 ribu bph. Namun hingga 20 Juni 2011 lalu produksi minyak rata-rata baru mencapai 906 ribu bph. Jadi bakal sulit sekali mengejar target tersebut.
Demikian disampaikan Kepala BP Migas, R. Priyono ketika ditemui di kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (24/6/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Priyono menyampaikan, angka 945 ribu bph tersebut berdasarkan fakta yang ada di lapangan minyak. Selain itu juga dengan mempertimbangkan penurunan produksi (decline rate), dan EOR-nya (Enhance Oil Recovery). Dirinya juga menyampaikan dalam waktu yang bersamaan terjadi pemeliharan lapangan yang menyebabkan sementara waktu kehilangan produksi minyak hingga 30 ribu bph.
"Dalam waktu bersamaan ada yang pemeliharaan lapangan jumlahnya 30 ribu bph. Itu ada shutdown di lapangan, dan kita harapkan nanti dua minggu naik lagi produksinya," tanggap Priyono.
Demi meningkatkan produksi semaksimal mungkin, Priyono meminta para KKKS (Kontraktor Kontrak Kerjasama) melakukan EOR. "Jadi kami dorong mereka untuk siapkan skenario. Jadi di semua lapangan ketika produksi harus menyiapkan skenario EOR. Jadi, ada secondary plan-nya," lanjut Priyono.
Di tempat yang berbeda, Gde Pradnyana selaku Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas BP Migas menyampaikan, sejauh ini pihak BP Migas dan KKKS sedang memasuki tahap persiapan pembahasan revisi WP&B (Work, Planning, and Budget) KKKS.
"Saat ini kami sedang dalam tahap persiapan pembahasan revisi. Dari situ akan kelihatan berapa kira-kira angka yang dapat dicapai. Untuk sementara perkiraaan kita tahun ini adalah dalam rentang 933-945 ribu bph," ungkap Gde kepada detikFinance.
(nrs/dnl)











































