Demikian disampaikan VP Corporate Communication Pertamina, Mochammad Harun ketika ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat (1/7/2011).
"Jadi gini, kita lihat bahwa kondisi di beberapa wilayah terkait adanya antrean BBM beberapa hari ini itu karena kita juga upaya untuk menjaga upaya kuota BBM (bersubsidi). Karena amanat dalam UU APBN demikian. Namun di sisi lain, kebutuhan BBM terus meningkat, ini jadi dua sisi berat bagi kita," ungkap Harun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebetulnya, dari sisi stok dan distribusi kita tidak ada masalah, kita memiliki stok sangat bagus, yakni 3,4 juta KL untuk BBM subsidi. Itu lebih untuk 22 hari," katanya.
Kata Harun, pihak Pertamina diminta untuk menjaga kuota. Namun, dengan adanya perbedaan realita, maka pihaknya mengambil keputusan untuk melepas stok BBM tersebut.
"Antrean panjang, BBM cepat habis karena kebutuhan masyarakat. Kemudian, secara musiman, konsumsi BBM naik pada kuartal dan semester kedua, jadi kita lepas BBM sesuai dengan monitoring kita," tutur Harun.
Dilepasnya stok secara terstruktur ini akan dilakukan khususnya di wilayah Kalimantan, Sumatera Selatan, Lampung, Jambi, dan Sumatera Utara. Wilayah tersebut, kata Harun, diakibatkan adanya kegiatan tambang, dan juga industri kelapa sawit.
"Saya harap ada kerjasama juga dengan pemerintah daerah dan aparat untuk membantu masyarakat terkait kebutuhan BBM bersubsidi ini. Jadi, kemarin itu, selain masih ada antrean karena peningkatan konsumsi, namun juga ada penyalahgunaan," keluhnya.
Harun juga menambahkan, selain menambah pasokan di daerah tertentu secara terukur, pihaknya juga bersama aparat terkait akan melakukan operasi penanganan penyalahgunaan BBM bersubsidi.
"BBM yang kita salurkan akan terus dlaporkan kepada BPH Migas (Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas). Memang sebelumnya kita harus menjaga kuota harian yang ada, tapi ini terus terjadi antre, maka itu kita ambil inisiatif," tukas Harun.
(nrs/dnl)











































