Demikian disampaikan Kepala BP Migas R. Priyono ketika menghadiri rapat dengar pendapat bersama dengan Anggota Komisi VII DPR yang diadakan di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (6/7/2011).
"Potensi produksi rata-rata optimum sebesar 920 ribu bph. Itu bisa dicapai dengan syarat-syarat terpenuhi, yakni proyek baru yang kesemuanya dapat terlaksana sesuai dengan jadwal. Itu angka-angka yang musti kena," ungkap Priyono.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari hasil evaluasi, pada produksi minyak 30 April 2011, sebetulnya masih bisa beri harapan pencapaian maksimal 945 ribu bph. Dengan catatan perlu ada kesempatan pengembangan yang dapat direalisasikan secara maksimal. Per 30 April 2011 lalu menunjukkan kesempatan tingkatan produksi jika optimal, ini terlihat dari adanya 26 kegiatan pendukung dari kontraktor," jelasnya.
Dirinya menyampaikan, produksi secara maksimum bisa terkejar hingga 945 ribu bph asalkan ada kebijakan-kebijakan baru yang bisa diraih.
Namun, mengingat pada akhir Juni 2011 terdapat beberapa proyek yang terlambat sehingga ada beberapa produksi minyak yang belum tertanggulangi.
"Berdasarkan akhir Juni 2011, produksi minyak optimum hanya tercapai 920 ribu bph untuk prognosa di 2011. Ini memang bukan yang diinginkan, tapi ada kenyataan teknis yang perlu dihadapi bersama," lanjut Priyono.
"Ada beberapa wilayah yang tidak bisa masuk produksinya. Itu di West Madura (Pertamina), lalu di Caltex yang sejak 2010 lalu hingga sekarang masih belum bisa masuk produksinya karena ada kerusakan pipa TGI di Duri," terangnya.
Dirinya menyampaikan, akan ada beberapa kenaikan produksi dari beberapa wilayah kerja migas. Namun produksinya tidak besar.
(nrs/dnl)











































