Demikian disampaikan Kepala BP Migas R. Priyono dalam rapat dengan Komisi VII DPR yang diadakan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (6/7/2011).
Priyono mengatakan, produksi minyak memang masih jauh dari target. Namun, penerimaan negara justru melebihi dari target yang ditetapkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Priyono mengakui produksi minyak Indonesia mengalami penurunan drastis. Produksi minyak masih jauh dari target yang dimimpikan pemerintah, yakni 970 ribu barel per hari. Sampai akhir Juni 2011, produksi minyak Indonesia baru mencapai rata-rata 93,2%.
"Produksi minyak 30 Juni 2011, baru mencapai 904,305 rbu bph. Bahkan 5 Juli 2011 (produksi harian) sempat turun menjadi 888 ribu bph karena ada perbaikan rutin di wilayah kerja milik Total E&P yang mengakibatkan adanya penutupan sumur," jelas Priyono.
Priyono juga melanjutkan, berdasarkan prognosa produksi migas Indonesia per Juli 2011 (2.259 barel ekuivalen minyak per hari), penerimaan negara sampai akhir tahun diperkirakan sebagai berikut (dengan tiga asumsi harga minyak Indonesia):
- US$ 85 per barel, penerimaan menjadi US$ 27 miliar
- US$ 90 per barel, penerimaan menjadi US$ 28,9 miliar
- US$ 95 per barel, penerimaan menjadi US$ 30,8 miliar











































