"Bilang sama pemerintah! supaya peralatan investasinya dimurahin, tenaga surya itu mahal. Paling tidak bea masuknya (dihapus), subsidi kek, agar dapat kemudahan," kata Ketua Umum APPBI Stefanus Ridwan kepada detikFinance, Rabu (13/7/2011).
Ridwan menjelaskan jika pengelola mal dipaksa menggunakan tenaga surya maka akan berimbas pada biaya listrik pengelola mal yang makin mahal. Sehingga akan berujung pada kenaikan biaya sewa dan kenaikan harga jual barang di mal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan mal-mal yang ada di China memang sudah banyak menggunakan tenaga surya. Hal itu bagi Ridwan tak mengherankan, karena di Negeri Tirai Bambu merupakan salah satu produsen alat tenaga surya (photovoltaic)
"Sebab dia China produksi panelnuya sendiri jadi murah," katanya.
Pelaksana Harian Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Kementerian ESDM Kardaya Warnika mengatakan, pihaknya telah mengusulkan agar listrik yang dipakai di pusat perbelanjaan tidak lagi berasal dari PLN, namun diganti listrik dari tenaga surya. Jadi nanti di atas atap mal-mal yang berada di kota-kota besar akan dipasang panel surya untuk pembangkit listriknya.
"Indonesia itu kan dilalui garis Khatulistiwa sehingga banyak matahari. China saja yang negara subtropis pakai itu," kata Kardaya.
(hen/dnl)











































