Misalnya di Samarinda, SPBU di Jl PM Noor, tidak menjual premium lantaran kehabisan stok sejak Minggu (18/7/2011) kemarin, bahkan Pertamax pun, tidak tersedia di SPBU tersebut. Kondisi yang sama, terjadi di SPBU Jl Ir H Juanda serta SPBU di simpang tiga Jl Pemuda-Jl DI Panjaitan.
"Bensin (Premium) kosong, Mas. Belum datang dari Balikpapan," kata salah seorang petugas SPBU di Jl PM Noor, Samarinda, kepada detikFinance, Senin (18/7/2011) siang WITA.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hampir 1 jam saya antre. Yang seperti ini, merugikan saya. Sangat merugikan saya karena waktu terbuang di SPBU," keluh Fahrudin, saat ditemui saat antrean SPBU di Jl Muhammad Yamin.
"Antre, antre, antre lagi. Bensin (premium)-nya kemana ya? Ada yang minum kali ya?" sindir Fahrudin.
Kesulitan warga memperoleh premium, juga terjadi di Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Dua SPBU di ruas jalan simpang 3 Tenggarong Seberang serta di kawasan kantor Bupati Kutai Kartanegara, juga terjadi antrean ratusan kendaraan hingga meluber ke badan jalan.
"Sama saja di Samarinda. Di sini juga antre nggak karuan. Nanti agak sorean, bensin (premium) sudah habis lagi," kata Samsul, warga Tenggarong, ketika dihubungi terpisah detikFinance.
Yang menarik, sambung Samsul, saat berlangsungnya Pekan Nasional Kelompok Tani dan Nelayan (Penas KTNA) di Tenggarong pada 18-23 Juni 2011 lalu, antrean kendaraan berlangsung normal. Saat itu Wapres Boediono hadir meresmikan acara tersebut.
"Kalau waktu Penas, normal, lancar tidak ada antrean. Padahal waktu itu kendaraan di Tenggarong membeludak. Tapi waktu selesai Penas, penyakit antrean mengisi bensin kambuh lagi. Ya begitu lah," sebut Samsul.
Kota-kota lainnya, Bontang dan Sengatta, juga tidak lepas dari persoalan yang sama, yang terjadi di Samarinda dan Bontang. Pedagang premium eceran, terus marak menjual premium eceran dengan harga bervariasi mulai Rp 6.500 sampai Rp 10.000 per liter.
(hen/hen)











































