Kandungan Nikel Raja Ampat Akan Habis 100 Tahun?

Kandungan Nikel Raja Ampat Akan Habis 100 Tahun?

- detikFinance
Senin, 18 Jul 2011 18:43 WIB
Kandungan Nikel Raja Ampat Akan Habis 100 Tahun?
Jakarta - Kandungan potensi nikel Raja Ampat diperkirakan hanya 50-100 juta metrik ton atau masuk kategori menengah. Kandungan ini tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan total cadangan nikel di Indonesia yang mencapai miliaran metrik ton.

Demikian disampaikan oleh pengamat pertambangan Priyo Pribadi Soemarno kepada detikFinance, Senin (18/7/2011)

"Raja Ampat kandungannya sampai 50-100 juta metrik ton, kalau di tambang terus menerus 100.000 ton sebulan saja, kurang dari waktu 100 tahun akan habis," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan fenomena menggenjot ekspor barang tambang termasuk nikel ke luar negeri saat ini sedang pesat-pesatnya. Hal ini terkait akan berlaku efektifnya undang-undang mineral dan batubara 2014 yang melarang ekspor bahan tambang yang belum diolah.

"Perebutan nikel marak paling hanya 2 tahun lagi oleh buyer, tahun 2014 dia tahu Indonesia tak boleh mengekspor biji nikel," katanya.

Menurutnya yang menjadi kekhawatiran adalah kegiatan eksplorasi besar-besaran untuk ekspor yang tak diimbangi dengan aspek lingkungan justru akan berbuntut permasalahan dikemudian hari. Jika itu sampai merusak lingkungan, Indonesia akan dirugikan apalagi kawasan Raja Ampat masuk kawasan ekologi yang masih 'perawan' di Indonesia.

"Pertambangan nikel ini perlu membongkar lapisan tanah, yang kotor langsung lari ke laut. Nikel itu endapan pelapukan batu ultra basa, yang terbentuk dari Sulawesi sampai Maluku sampai jajaran maluku termasuk Papua," katanya.

Priyo mengaku saat ini Indonesia belum menganut pengelolaan pertambangan berbasis manajemen secara regional. Sistem ini memungkinkan pemerintah daerah bisa memanfaatkan potensi tambangnya secara terencana dan bertanggung jawab.

"Tidak bisa dipungkiri sistem izin kewenangan pertambangan sudah ke Pemda berjalan tanpa dikontrol pusat," katanya.

Seperti diketahui pertambangan nikel di Raja Ampat sudah berlangsung beberapa tahun terakhir. Gubernur Papua Barat Abraham Atururi sudah melarang pertambangan di Raja Ampat, namun kapal-kapal pembawa nikel dan kobalt menuju perusahaan Queensland Nickel milik jutawan Australia Clive Palmer terus terjadi.

PT ASP dan PT ASI adalah mitra pengusaha lokal penambang nikel ini. Warga sekitar mengatakan aktivitas tambang kedua perusahaan satu grup itu merusak kawasan Pantai Raja Ampat.

Sebanyak 15 Perusahaan tambang lain berhenti beroperasi setelah larangan gubernur itu, namun PT ASP dan PT ASI bertahan. Disebut-sebut, PT ASP dan PT ASI punya 'beking' pejabat dan militer di Jakarta.
(hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads