Demikian disampaikan Presiden Direktur Chevron Abdul Hamid Batubara kepada detikFinance ketika ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (21/7/2011).
"Saya kira, kalau saya boleh bilang, artinya kalau dari segi kendala tidak ada yang spesifik. Kita kan, memang, kalau dari lapangan kan memang sudah mature (tua)," tanggapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita juga sudah melakukan dengan cara eksploitasi. Itu seolah-olah kita mendapatkan tambahan tangki air untuk dituangkan ke bak lagi. Kita juga memakai teknologi, jadi dasarnya (dasar sumur) kita dalami lagi, seperti EOR (Enhance Oil Recovery) kita tambah kedalamannya. Namun kan, lama-lama makin tipis. Memang akan ada tambahan (produksi) tapi tidak sebanyak ketika kita menyiduk air. Sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, secara natural turun," rincinya.
Umur sumur yang sudah tua ini menurut Abdul Hamid membuat produksi minyak turun secara alamiah. Dia pn mengaku berat untuk tetap menjaga produksi minyaknya stabil.
Seperti diketahui, sampai saat ini produksi minyak Indonesia masih sulit mengejar target. Meskipun target produksi minyak sudah diturunkan dari 970 ribu bph menjadi 945 dalam APBN-P 2011.
Badan Pelaksana Kegiatan Hilir Minyak dan Gas (BP Migas) sempat mengatakan berat untuk mengejar target tahun ini. Hal tersebut didukung dengan adanya unplanned shutdown, hingga masalah cuaca. Bahkan beberapa KKKS (Kontraktor Kerjasama) terbesar, seperti Chevron tidak bisa mengejar target yang sudah ditentukan.
Dalam pemaparan BP Migas beberapa waktu lalu, produksi minyak yang disumbangkan KKKS cenderung turun. Hingga April 2011 produksi minyak Chevron baru sampai 359 ribu barel per hari.
Tak Keberatan Pasokan Gasnya Digantikan CBM
Abdul juga menyatakan kesiapan Chevron untuk menerima pasokan gas dari hasil gasifikasi batubara yang diwacanakan Ditjen Migas Kementerian ESDM untuk mengganti pasokan gas sebesar 100 mmscfd gas lapangan Grissik (milik ChonocoPhillips) menuju Duri (milik Chevron).
"Dari sisi kita, kalau memang gasnya, quality-nya, amount-nya dapat memenuhi apa yang kita butuhka, itu gak akan masalah," yakinnya.
Dirinya melanjutkan, pasokan gas untuk ke Duri memang dibutuhkan untuk kebutuhan gas dalam produksi steam di lapangan yang terletak di Riau tersebut.
"Dari kita sih open saja, sejauh kebutuhan gas untuk memproduksi steam dapat tercapai. Sehingga, produksi tidak terganggu. Kira-kira seperti itu, tapi kita menunggu pemerintah saja," tanggap Hamid.
Katanya pasokan gas yang dibutuhkan di Duri tersebut adalah sebesar 100 mmscfd. Tadinya pasokan gas tersebut dipakai untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik milik PLN. Namun demi meningkatkan produksi minyak, maka pasokan gas tersebut dialihkan untuk Chevron.
(dnl/dnl)











































