Demikian disampaikan Evita Herawati Legowo selaku Direktur Jenderal Minyak dan Gas KESDM, Jakarta, Jum'at malam (22/7/2011).
"Nanti (industri tersebut) akan dibuat di mulut tambang batubara, jadi kita buat industri Synthesized Natural Gas (SNG) di mulut tambang batubara supaya gak mahal angkut batubaranya. Setelah itu kita buatkan pipa untuk mengalirkan gasnya ke Chevron. Perkiraannya di 2015 lah (sudah dibangun)," ungkap Evita.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita masih ada dua opsi di situ, tapi yang pasti dengan tambang batubara swasta kita kerjasamanya," lanjutnya.
Adapun, seperti yang pernah disampaikan sebelumnya, pembangunan industri ini akan dikerjasamakan dengan pihak Jepang. Dirinya mengatakan, saat ini masih menunggu tindak lanjut dari Jepang dan setelah itu nantinya bisa masuk tahapan Feasibilities Studies selama setahun ke depan.
"Kita menargetkan produksi gas 150 mmscfd, dan itu bisa dihasilkan dari batubara kira-kira sekitar 5000 ton. Kemudian jika bisa, nanti gas yang selama ini dipakai ke Chevron bisa dialihkan untuk ke dalam negeri, terutama bagi PLN untuk kurangi subsidi listrik," janjinya.
Namun ketika ditanya lebih lanjut terkait rencana investasi pembangunan industri SNG tersebut, Evita mengaku belum bisa menjawab hal tersebut. Karena pembahasan dengan Jepang perlu dilanjutkan terlebih dahulu.
Di lain pihak, pihak Chevron Pacific Indonesia (CPI) mengaku terbuka jika pasokan gas batubara tersebut ada. Presiden Direktur CPI, Abdul Hamid Batubara menyampaikan pihaknya mau menerima gas tersebut selama kualitas dan jumlahnya sesuai dengan kebutuhan CPI yang mengoperasikan lapangan migas di wilayah Duri, Riau.
(nrs/ang)











































