Demikian disampaikan oleh Vice President Corporate Communication Pertamina M. Harun kepada detikFinance, Senin (25/7/2011).
"Kami sudah dipastikan tidak untung. Triwulan satu kami sudah rugi Rp 500 miliar, triwulan dua juga sama. Jadi dalam satu semester sudah Rp 1 triliun. Sampai akhir tahun kira-kira Rp 2 triliun," tutur Harun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keputusan alpha tersebut makin menekan Pertamina karena harga minyak terus naik sehingga BUMN migas ini harus menanggung kerugian makin mahalnya harga BBM subsidi yang dijualnya.
"Penolakan alpha ini menunjukkan tidak ada kerelaan stakeholder untuk menjadikan Pertamina sebagai perusahaan besar. Support mereka minim," kata Harun.
Menurut Harun keputusan pembatalan kenaikan alpha BBM subsidi membuat Pertamina harus berkorban.
"Sebetulnya kita bisa beri dividen yang besar kalau kerugian-kerugian kita ini diberikan marjin yang benar," tukas Harun.
Sebelumnya, pemerintah mengusulkan kenaikan alpha BBM bersubsidi Rp 50 per liter mulai Agustus 2011. Jika alpha BBM bersubsidi jadi dinaikkan Rp 50 per liter, dalam perhitungan pemerintah, rata-rata alpha BBM bersubsidi dari Januari hingga Desember 2011 mencapai Rp 618,68 per liter.
Menurut Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh, usulan kenaikan alpha ini dilatarbelakangi karena Pertamina sebagai pelaksana PSO, mengalami kerugian dalam 2 tahun terakhir. Di 2009, kerugian Pertamina mencapai Rp 4,9 triliun. Sedangkan pada 2010, kerugiannya mencapai Rp 2,5 triliun. Di sisi lain, sebagai badan usaha, BUMN itu juga dituntut untuk memberikan keuntungan. Ini sesuai dengan UU No.19 tahun 2003 tentang BUMN.
Jika alpha BBM bersubsidi jadi dinaikkan Rp 50 per liter, dalam perhitungan pemerintah, rata-rata alpha BBM bersubsidi dari Januari hingga Desember 2011 mencapai Rp 618,68 per liter.
(dnl/qom)











































