BP Migas: Pertamina, Medco, dan Bakrie Bisa Ambil Saham Exxon di Aceh

BP Migas: Pertamina, Medco, dan Bakrie Bisa Ambil Saham Exxon di Aceh

- detikFinance
Selasa, 09 Agu 2011 14:39 WIB
BP Migas: Pertamina, Medco, dan Bakrie Bisa Ambil Saham Exxon di Aceh
Jakarta - Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) sangat berharap perusahaan migas nasional mengambil alih saham milik raksasa energi ExxonMobil pada sumur-sumur gas di Aceh.

Hal ini disampaikan oleh Kepala BP Migas R. Priyono kepada detikFinance, Selasa (9/8/2011). Priyono menanggapi rencana ExxonMobil menjual seluruh proyek gasnya di Aceh.

"Mudah-mudahan yang akan mengambil saham tersebut adalah perusahaan nasional. Apakah Pertamina, atau Medco, atau Bakrie, atau Star Energy, dan lain-lain," jelasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti diketahui, Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas BP Migas, Gde Pradnyana mengatakan kemungkinan dilepasnya saham kepemilikan Exxon di Aceh tersebut dikarenakan sudah tidak begitu ekonomis. Namun, bagi perusahaan nasional, Gde menilai hal tersebut sangat ekonomis.

Gde mengatakan, ExxonMobil hanya melepas sahamnya pada proyek gas di Aceh saja, termasuk di Arun. Sementara aset lainnya seperti di Cepu dan Selat Makassar masih dipertahankan.

"Jadi alasan penjualan ini karena dia (ExxonMobil) mau lebih fokus di aset-asetnya yang lain. Selain juga mungkin dia anggap bloknya di Aceh sudah tidak ekonomis lagi," jelas Gde.

Dikatakan Gde, saat ini terbuka peluang untuk perusahaan lain untuk mengelola dan memaksimalkan nilai ekonomi dari blok tersebut.

ExxonMobil sebelumnya mengumumkan rencananya untuk menjual seluruh kepemilikan sahamnya di lapangan gas di Indonesia. Exxon akan menjual sahamnya di Mobil Exploration Indonesia, ExxonMobil Oil Indonesia and Mobil Indonesia LNG, yang selama ini menguasai proyek gas di Aceh dan memroduksi LNG.

"ExxonMobil menjual saham yang dimilikinya di 3 perusahaan yang berhubungan dengan proyek gas Aceh dan operasional produksi LNG di Indonesia," demikian pernyataan dari Exxon.

Salah satu aset yang dijual adalah ExxonMobil Oil Indonesia, yang sebelumnya mendapat gugatan dari 11 penduduk desa yang mengklaim perusahaan tersebut terlibat dalam aksi pembunuhan untuk melindungi proyek tersebut. Exxon membantah gugatan yang diajukan warha pada tahun 2011. Pada Juli, pengadilan federal AS mengizinkan gugatan diteruskan.

ExxonMobil tidak menyebutkan masalah gugatan dalam pernyataannya dan mengatakan keputusan untuk menjual aset-asetnya tersebut konsisten dengan aturan ExxonMobil yang sudah lama untuk terus mereview aset-asetnya untuk berkontribusi pada tujuan operasional dan finansial.

ExxonMobil Oil Indonesia tercatat memiliki 100% saham di lapangan Arun LNG dan juga lapangan satelitnya di Lhoksukon Selatan A & D dan Phase A& B di onshore. Sementara Mobil Exploration Indonesia menguasai 100% saham di lapangan offshore Sumatera Utara, sedangkan Mobil Indonesia LNG menguasai 30% saham di pabrik pengolahan LNG Arun.

Produksi gas dari lapangan-lapangan gas tersebut terus berkurang, pada tahun lalu produksi tahunannya mencapai 215,000 Mcf per hari, dibandingkan produksi puncak yang mencapai 3,4 Bcf per hari pada 1994 dan sekitar 130.000 barel per hari kondensat pada 1989.

(nrs/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads