Demikian disampaikan oleh VP Corporate Communication Pertamina M. Harun kepada detikFinance, Selasa (9/8/2011).
"Exxon kan kontraknya sudah mau habis (di Aceh). Jadi ngapain (beli)? Kita tunggu saja sampai kontraknya habis," jelas Harun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau beli kita kan keluarkan uang, sementara potensinya kurang kalau menurut kita. Kalau mau ambil, ya kita tunggu kontraknya habis. Itu kalau mau ambil ya," tegas harun.
Seperti diketahui, Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas BP Migas, Gde Pradnyana mengatakan kemungkinan dilepasnya saham kepemilikan Exxon di Aceh tersebut dikarenakan sudah tidak begitu ekonomis. Namun, bagi perusahaan nasional, Gde menilai hal tersebut sangat ekonomis.
ExxonMobil sebelumnya mengumumkan rencananya untuk menjual seluruh kepemilikan sahamnya di lapangan gas di Indonesia. Exxon akan menjual sahamnya di Mobil Exploration Indonesia, ExxonMobil Oil Indonesia and Mobil Indonesia LNG, yang selama ini menguasai proyek gas di Aceh dan memroduksi LNG.
Salah satu aset yang dijual adalah ExxonMobil Oil Indonesia, yang sebelumnya mendapat gugatan dari 11 penduduk desa yang mengklaim perusahaan tersebut terlibat dalam aksi pembunuhan untuk melindungi proyek tersebut. Exxon membantah gugatan yang diajukan warha pada tahun 2011. Pada Juli, pengadilan federal AS mengizinkan gugatan diteruskan.
ExxonMobil tidak menyebutkan masalah gugatan dalam pernyataannya dan mengatakan keputusan untuk menjual aset-asetnya tersebut konsisten dengan aturan ExxonMobil yang sudah lama untuk terus mereview aset-asetnya untuk berkontribusi pada tujuan operasional dan finansial.
ExxonMobil Oil Indonesia tercatat memiliki 100% saham di lapangan Arun LNG dan juga lapangan satelitnya di Lhoksukon Selatan A & D dan Phase A& B di onshore. Sementara Mobil Exploration Indonesia menguasai 100% saham di lapangan offshore Sumatera Utara, sedangkan Mobil Indonesia LNG menguasai 30% saham di pabrik pengolahan LNG Arun.
Produksi gas dari lapangan-lapangan gas tersebut terus berkurang, pada tahun lalu produksi tahunannya mencapai 215,000 Mcf per hari, dibandingkan produksi puncak yang mencapai 3,4 Bcf per hari pada 1994 dan sekitar 130.000 barel per hari kondensat pada 1989.
(dnl/hen)











































