Listrik biomassa ini bisa bisa dihasilkan dari sampah perkotaan dan limbah pertanian seperti dari perkebunan sawit, padi, tebu, kayu, dan kelapa.
Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Kardaya Warnika mengatakan permintaan akan pembangkit listrik dari biomassa saat ini sangat besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Kardaya, bahan bakar biomassa yang paling berpotensi untuk dijadikan bahan bakar pembangkit listrik di Indonesia adalah limbah kelapa sawit.
"Limbah kelapa sawit itu bisa diambil dari pelepahnya, cangkangnya dan segala macam," lanjut Kardaya menyampaikan.
Diakui olehnya jenis pembangkit tersebut memang tidak besar. Namun sangat berpotensi mengingat Indonesia memiliki banyak industri kelapa sawit yang tersebar di Sumatera atau Kalimantan.
"Tapi, kalau di Sumatera, dari Aceh sampai Lampung itu kan ada kelapa sawit (industri). Itu kalau satu industri bisa ada 5 MW (megawatt), coba kalikan 100 industri. Itu bisa mencapai 500 MW kan. Jadi listrik sisanya bisa dijual ke PLN," ucap Kardaya.
Kardaya mengakui, pihaknya terus fokus mengembangkan dan dorong pemakaian energi baru terbarukan yang lain. Sepertinya misalnya pemakaian panas bumi untuk pembangkit listrik.
Pihaknya juga masih menunggu adanya revisi PMK (peraturan menteri keuangan) terkait pemberian jaminan bagi para pengembang energi baru terbarukan tersebut.
"Kita juga harapkan, bahwa enegi terbarukan ini kan pemakaiannya bisa untuk banyak hal, terutama listrik. Dibandingkan dengan batubara, saya lihat selama ini pembangkitan listrik untuk batubara sangat gampang mendapatkan kemudahan. Misalnya mendapatkan fasilitas jaminan. Namun kenapa panas bumi tidak?" keluhnya.
Maka itu dirinya berharap pengembangan energi baru terbarukan ke depannya juga mendapatkan jaminan yang sama. Agar para investor mau masuk berkontribusi bagi perkembangan energi terbarukan di Indonesia.
(nrs/dnl)











































