Pihak TPPI mengaku kesulitan membayar utangnya kepada PT Pertamina jika saja pihak Pertamina tidak mamu membeli mogas dan elpiji yang siap dipasok TPPI.
"Pelunasan utang ke Pertamina, BP Migas, dan PPA sudah disanggupi TPPI dengan dukungan Deutsche Bank, tinggal menandatangani perjanjian. Tapi Pertamina belum setuju membeli mogas dan Elpiji dari TPPI," kata Presiden Direktur PT TPPI Amir Sambodo kepada sejumlah wartawan melalui pesan singkatnya, Jakarta, Jumat (12/8/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menanggapi hal tersebut, VP Corporate Communication Pertamina, Mochammad Harun mengatakan pihaknya tidak mau membeli pasokan Elpiji dari TPPI karena harganya yang tinggi jauh di atas harga pasaran.
"Kalau dia (TPPI) mau Elpijinya dipasok ke kita dengan harga pasar, buat kita gak masalah. Tapi kalau dia minta jauh lebih tinggi dari harga pasar, pertanggungjawaban kita jadi berat," ungkap Harun.
Menurutnya harga yang dipasok ke Pertamina dari TPPI sangat tinggi sekali, sehingga Pertamina tidak mau membeli barang tersebut. "Nanti malah kita yang bayar duit ke mereka," ucapnya.
"Sekarang terserah pihak mereka bagaimana caranya memnbayar hutangnya. Kami hanya hargai Term feet yang ada. Kami harap ada penepatan janji mereka. Selebihnya itu tanggung jawab mereka," katanya.
Seperti diketahui, total utang TPPI ke Pertamina sampai saat ini mencapai US$ 548 juta, dan sudah ada kesepakatan pembayaran utang tersebut yang tertuang dalam term sheet yang telah ditandatangani pihak Pertamina, TPPI, dan PPA pada 26 Mei 2011. TPPI 'memaksa' Pertamina menerima pasokan elpiji dalam jangka waktu 10 tahun untuk menggantikan utangnya yang senilai US$ 229 juta.
(nrs/qom)











































