Lapangan Gas Jambaran merupakan wilayah kerja yang masih berada di bawah kepemilikan operatorship Mobil Cepu Ltd. Namun Pertamina EP menjadi unit operator untuk mengelola lapangan tersebut bersama dengan lapangan yang dikelola Pertamina EP di Tiung Biru.
"Diharapkan operator unitisasi pengembangan ladang Jambaran di bawah Pertamina EP, maka biaya-biaya yang timbul akan lebih efisien terutama yang menyangkut keterlibatan tenaga ekspatriat jelas akan dikurangi," ungkap VP Corporate Communication Pertamina, Mochammad Harun di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (19/8/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Cadangan gasnya nanti akan di-take over oleh Pertamina EP Cepu untuk mengembangkan ini. Karena akan lebih enak seperti itu. Makanya dibuat term seperti ini. Karena ada wilayahnya Pertamina EP yang ada di situ, maka ini unitisasi (penggabungan) jadinya. Jadi satu pengembangannya," jelas Harun.
Selain harapan akan efisiensi pengelolaan lapangan, pihaknya juga berharap dapat segera mengirimkan gas yang dihasilkan. Ditargetkan awal 2015 gas di penyatuan kedua lapangan tersebut sudah bisa dihasilkan
"Diharapkan dapat memproduksi 200 juta kaki kubik per hari (mmscfd) dengan cadangan terbukti 1,1 TCF (triliun kaki kubik). Rencananya ini untuk kebutuhan teman-teman PLN dan Petrokimia Gresik, karena di wilayah Jawa Timur sangat haus gas. Itu bisa bantu PLN nanti," lanjut Harun.
Kemudian dari sisi finansial, pihak Pertamina menawarkan penghematan biaya produksi. Dari tawaran sebelumnya senilai US$ 2,1 miliar menjadi US$ 1,2 miliar. "Efisiensi yang kita tawarkan lebih banyaklah," timpalnya.
"Jambaran itu kan bagian dari blok Cepu nah di sebelahnya ada Tiung Biru. Nah ini yang disinergikan pengembangunannya," tambah Harun.
(nrs/dnl)











































