Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas, Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMIGAS), Gde Pradnyana mengatakan, akibat demo itu Indonesia kehilangan produksi minyak 2.000 barel.
"Total kehilangan produksi sekitar 2.000 barel minyak," kata Gde dalam siaran pers yang dikutip detikFinance, Senin (22/8/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kejadian tersebut menyebabkan enam sumur dan fasilitas produksi terpaksa dihentikan demi keamanan sesuai standar prosedur operasi lapangan minyak.
Saat ini, aparat keamanan dari Kepolisian RI maupun TNI telah tiba untuk mengamankan lokasi.
"Namun, kapal rumah sakit yang dibawa lari oleh pendemo masih belum diketahui lokasinya," kata Gde.
"Diharapkan situasi dapat segera dikendalikan dan kapal ditemukan," katanya.
Lapangan Minyak Tiaka sudah berproduksi sejak akhir Juli tahun 2005 dengan kapasitas produksi minyak mentah sebesar 1.200 barel/hari dan ditingkatkan hingga mencapai kapasitas produksi 4.000 barel/hari pada triwulan ke-4 tahun 2005.
Blok Senoro-Toili diambil alih Medco Energi Indonesia (MEI) pada bulan Maret 2000 dari Atlantic Richfield Company (Arco) dalam kontrak Production Sharing Contract Joit Operating Body (PSC JOB).
Blok seluas 475 km2 ini terdiri dari dua blok terpisah yakni blok Senoro yang berada di darat (onshore), terletak di wilayah Kabupaten Banggai dan blok Toili dilepas pantai (offshore) terletak di wilayah Kabupaten Morowali. Kabupaten Banggai dan Kabupaten Morowali keduanya berada di Provinsi Sulawesi Tengah. Adapun lapangan minyak Tiaka berada di dalam blok Toili dan merupakan lapangan minyak pertama di Sulawesi.
Blok Toili berada di lepas pantai sekitar 15 mil dari daratan Kabupaten Morowali, namun areanya sendiri sebagian sudah merupakan daratan yang dibentuk dari hasil reklamasi Pulau Gosong Karang Tiaka seluas 4,375 hektar.
(dnl/qom)











































