Muhammad Husen selaku Direktur Hulu Pertamina mengatakan, saat ini pekerjaan proyek baik di hulu maupun hilir berjalan dengan baik.
"Saya baru saja dari lokasi lihat progres proyek baik di hulu dan hilir semuanya berjalan baik. Saya optimis pengapalan pertama LNG bisa dilakukan 2014," katanya kepada detikFinance, Senin (22/8/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan pembebasan lahan di bagian hilir yang menjadi lokasi kilang sudah selesai dilakukan. "Namun, saya yakin tim yang bekerja di sana bisa menyelesaikannya," kata dia.
Hal yang sama dikemukakan Vice President Corporate Communications Mochamad Harun. Menurutnya, proyek Senoro akan mulai berproduksi pada 2014.
"Sebagian produksi gas akan dimanfaatkan bagi kebutuhan dalam negeri yakni buat pembangkit dan pupuk," ujar Harun.
Proyek pengembangan gas Senoro mencakup pengembangan gas di Blok Senoro-Toili yang dikelola oleh Join Operating Body (JOB) Pertamina-Medco dan area Matindok yang dioperasikan Pertamina. Gas dari kedua lapangan tersebut kemudian diolah menjadi gas alam cair di Kilang Donggi-Senoro.
Proyek Donggi-Senoro merupakan proyek pengembangan gas alam cair pertama di Indonesia yang menggunakan skema hilir.
PT DSLNG, selaku operator kilang, sudah menandatangani perjanjian jual beli LNG dengan tiga pembeli selama 13 tahun sejak 2014. Mereka adalah Chubu Electric Power Co Inc, Jepang dengan volume satu juta ton, Kyushu Electric Power Co Inc, Jepang 300.000 ton per tahun, dan Korea Gas Corporation (Kogas) 700.000 ton per tahun.
Saat ini, komposisi pemegang saham DSLNG adalah Sulawesi LNG Development Ltd 59,9 persen, PT Pertamina Hulu Energi 29 persen, dan PT Medco LNG Indonesia 11,1 persen. Sulawesi LNG Development Ltd merupakan perusahaan yang sahamnya dimiliki Mitsubishi Corporation 75 persen dan Kogas 25 persen
(nrs/qom)











































