Exxon Terus 'Jajakan' Ladang Gas di Aceh

Exxon Terus 'Jajakan' Ladang Gas di Aceh

- detikFinance
Jumat, 26 Agu 2011 09:25 WIB
Exxon Terus Jajakan Ladang Gas di Aceh
Jakarta - Perusahaan migas raksasa asal AS ExxonMobil masih terus menjajakan sahamnya di lapangan gas Arun Aceh. Namun jika tidak laku, ExxonMobil mengatakan akan terus menjadi pengelola sampai masa kontrak habis.

ExxonMobil rencananya ingin melepas saham kepengelolaan di lapangan Arun karena lapangan tersebut sudah tidak ekonomis bagi perusahaan sekelas ExxonMobil.

"Kita akan teruskan kalau memang tidak ada yang berminat. Kita teruskan sampai kontrak berakhir," ungkap Exploration Public and Goverment Affairs Manager ExxonMobil Oil Indonesia, Vasta C. Choesin yang ditemui di restoran Bebek Bengil, Jakarta, Kamis malam (26/8/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Vasta melanjutkan, kontrak pengelolaan Exxon di lapangan Arun akan berakhir pada 2018 nanti. Sedangkan, untuk kontrak produksi LNG akan berakhir pada 2014.

"Tapi ini sebetulnya baru pada tahap penawaran, kita belum ada keputusan untuk melepas saham tersebut. Ini memang umum di industri minyak dan gas. Kita kan selalu kaji aset kami, kalau itu dinilai dapat memberi keuntungan jika dikelola perusahaan lain, maka kita bisa melepas kepemilikan saham di situ," jelas Vasta.

Katanya, penawaran ladang gas di Aceh tersebut belum ada batas waktunya, sehingga setiap perusahaan yang berminat dapat berkesempatan untuk menjajaki penawaran kepada pihak ExxonMobil.

"Kita tentunya berdasarkan penawaean yang masuk, kalau ada yang memberikan penawaran terbaik maka bisa jadi pembelinya. Kami melihat kemungkinan saham dari resources di Aceh ini punya nilai lebih jika dikelola perusahaan lain," lanjutnya.

Namun, Vasta mengaku nilai dari harga saham yang akan ditawarkan belum bisa diperhitungkan. Karena pihaknya perlu melihat lagi berapa potensi harga yang bisa dihasilkan dari aset yang ada di ladang gas tersebut.

Seperti diketahui, ExxonMobil berniat menjual proyek gasnya yang dikelola di Aceh secara keseluruhan yang ada di Mobil Exploration Indonesia, ExxonMobil Oil Indoneia, dan Mobil Indonesia LNG yang selama ini menguasai lapangan gas di sana dan memproduksi LNG.

ExxonMobil Oil Indonesia tercatat memiliki 100% saham di lapangan Arun LNG dan juga lapangan satelitnya di Lhoksukon Selatan A & D dan Phase A& B di onshore. Sementara Mobil Exploration Indonesia menguasai 100% saham di lapangan offshore Sumatera Utara, sedangkan Mobil Indonesia LNG menguasai 30% saham di pabrik pengolahan LNG Arun.

Produksi gas dari lapangan-lapangan gas tersebut terus berkurang, pada tahun lalu produksi tahunannya mencapai 215,000 Mcf per hari, dibandingkan produksi puncak yang mencapai 3,4 Bcf per hari pada 1994 dan sekitar 130.000 barel per hari kondensat pada 1989.

Dikabarkan, dilepasnya kepemilikan pengelolaan gas di sana karena sudah tidak ekonomis lagi bagi perusahaan tersebut. Sehingga perusahaan AS tersebut ingin fokus menggarap aset-asetnya yang lain di Indonesia.

Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) menilai meskipun sudah tidak ekonomis, namun hal tersebut sangat ekonomis bagi perusahaan migas lokal yang berminat untuk melanjutkan pekerjaan Exxon.

Kepala BP Migas, R. Priyono menyampaikan, perusahaan migas seperti Pertamina, Medco, atau Bakrie Energy bisa meneruskan pengelolaan di sana.

(nrs/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads