PT Pertamina (Persero) telah kembali mengoperasikan sumur minyak Tiaka di Blok Senoro-Toili, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah sejak Jumat (2/9/2011) lalu pasca demonstrasi beberapa hari sebelumnya.
Demikian disampaikan VP Corporate Communication Pertamina, Mochammad Harun yang ditemui di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Senin (5/9/2011).
"Sejak Jumat kemarin kita sudah bisa berproduksi. Produksi sudah mencapai 2000 barel per hari (bph)," kata Harun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, pihaknya kini juga sudah melakukan beberapa perbaikan terhadap fasilitas yang dirusak. Karena sebelumnya, sumur tersebut belum bisaa dimasuki, sebelum diperiksa oleh pihak berwajib.
"Untuk produksi minyak yang hilang itu bisa dihitung sejak mulainya kerusuhan sampai Jumat kemarin (diperkirakan total kehilangan mencapai 20 ribu barel)," ungkapnya.
Harun melanjutkan, pihaknya masih melakukan perundingan di wilayah tersebut untuk meredam masalah.
"Itu nanti pihak Pemda yang memfasilitasi. Yang pasti bagi hasil produksi minyak kita berikan ke pemda, dan kita terus memberikan bantuan bagi kebutuhan masyarakat melalui CSR," lanjutnya.
Seperti diketahui, Lapangan Minyak Tiaka sudah berproduksi sejak akhir Juli tahun 2005 dengan kapasitas produksi minyak mentah sebesar 1.200 barel/hari dan ditingkatkan hingga mencapai kapasitas produksi 4.000 barel/hari pada triwulan ke-4 tahun 2005.
Blok Senoro-Toili diambil alih Medco Energi Indonesia (MEI) pada bulan Maret 2000 dari Atlantic Richfield Company (Arco) dalam kontrak Production Sharing Contract Joit Operating Body (PSC JOB).
Blok seluas 475 km2 ini terdiri dari dua blok terpisah yakni blok Senoro yang berada di darat (onshore), terletak di wilayah Kabupaten Banggai dan blok Toili dilepas pantai (offshore) terletak di wilayah Kabupaten Morowali. Kabupaten Banggai dan Kabupaten Morowali keduanya berada di Provinsi Sulawesi Tengah. Adapun lapangan minyak Tiaka berada di dalam blok Toili dan merupakan lapangan minyak pertama di Sulawesi.
Blok Toili berada di lepas pantai sekitar 15 mil dari daratan Kabupaten Morowali, namun areanya sendiri sebagian sudah merupakan daratan yang dibentuk dari hasil reklamasi Pulau Gosong Karang Tiaka seluas 4,375 hektar.
Kini sumur tersbut dioperatori oleh Pertamina-Medco. Semenjak 20 Agustus 2011 lalu, telah terjadi aksi demo oleh warga setempat. Akibatnya beberapa fassilitas mengalami kerusakan.
Karena kejadian ini, enam sumur dan fasilitas produksi di Lapangan Tiaka di mana mampu memproduksikan minyak sebesar 1.600 barel per hari tercancam 'lumpuh'.
Gde Pradnyana, selaku Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas BP Migas menjelaskan, aksi demo anarkis di Tiaka dimulai sejak Sabtu (20/8/2011) yang terlihat sekitar 30 pendemo datang menggunakan kapal kayu, kemudian merusak beberapa fasilitas yang mengakibatkan kru harus dievakuasi dan lapangan ditutup.
Setelah mendapati lapangan kosong, pendemo pergi dengan membawa dan merampas kapal kru yang merangkap sebagai kapal rumah sakit. Kapal tersebut kini masih ditangan pendemo.
Pada Minggu (21/8/2011), sebenarnya kondisi berangsur membaik dan produksi kembali normal. "Namun, Senin kemarin massa kembali datang dengan membawa parang dan senjata tajam lainnya, serta bom molotov," tuturnya
(nrs/ang)











































