Padahal faktanya sejauh ini, konsumsi BBM masih sangat tinggi, apalagi pada lebaran lalu konsumsi masih cenderung sangat tinggi.
"Kalau kuota BBM kan ini memang bergantung kepada siklusnya. Kita kan sudah menaikkan kuota BBM Subsidi juga (pada APBN-P). Menurut saya pada Lebaran ini pun sudah diantisipasi dengan baik," kata Hatta di kantornya, Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (5/9/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk Lebaran kemarin kan sudah diantisipasi, yang penting pasca Lebaran ini perlu dijaga melalui pengawasan terhadap penyimpangan BBM Subsidi," pintanya.
Hatta juga mengaku sudah mengkomunikasikan hal ini kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan juga Pemerintah Daerah setempat untuk segera perketat hal tersebut agar kuota yang sudah ditetapkan tidak melebihi di akhir tahun 2011 ini.
"Saya sudah adakan rapat dengan Pemda supaya mereka dilibatkan untuk mengawasi itu, kita akan jelaskan bagaimana menjaga kuota BBM tahun ini," jelas Hatta.
Seperti diketahui, pada awal tahun lalu, kuota BBM bersubsidi ditetapkan pada angka 38,5 juta KL. Namun sampai semester pertama 2011, konsumsi BBM sudah melebihi kuota, kemudian dalam APBN-P 2011 ditambah menjadi sebesar 40,4 juta KL.
Sejauh ini pemerintah juga belum melakukan tindakan berupa pembatasan. Mereka hanya masih mengandalkan pada pengawasan.
Pihak Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas juga menyampaikan jika saja pengawasan belum juga dilakukan, kemungkinan kuota BBM Bersubsidi sampai akhir tahun ini bisa 'jebol' hingga 2% dari jatah yang ditetapkan di APBN-P. Sampai awal September lalu saja, realisasi penyaluran BBM Bersubsidi sudah mencapai angka 27 juta KL terhitung sejak awal Januari 2011.
(nrs/hen)











































