Garap Gas Natuna, Pertamina Butuh Hingga US$ 40 Miliar

Garap Gas Natuna, Pertamina Butuh Hingga US$ 40 Miliar

- detikFinance
Senin, 05 Sep 2011 15:20 WIB
Garap Gas Natuna, Pertamina Butuh Hingga US$ 40 Miliar
Jakarta - PT Pertamina (Persero) memperkirakan investasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan gas di blok East Natuna, Kepulauan Riau mencapai US$ 20 miliar-US$ 40 miliar.

Hal ini diungkapkan Direktur Hulu Pertamina, Muhamad Husen ketika ditemui di kantor pusat Pertamina, Jakarta, Senin (5/9/2011).

"Perkiraan invetasi di atas US$ 20 miliar, originally bisa sampai US$ 40 miliar. Tapi ini tergantung skenarionya, ini juga akan dibicarakan, apakah akan mau lewat pipa atau LNG (Liquified Natural Gas/Gas Cair) untuk pendistribusian gasnya, apakah mau diproduksi seluruhnya atau setengahnya, itu biaya lain-lainnya, itu yang akan kita bicarakan," kata Husen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Husen melanjutkan, skenario paling murahnya adalah dengan cara membangun jaringan pipa ke pulau Sumatera atau pulau Jawa, atau juga ekspor langsung kepada Malaysia. Sehingga investasi yang dibutuhkan diperkirakan mencapai lebih dari US$ 20 miliar.

"Maka itu kita harus sudah ada perhitungannya. Makanya ini kembali ke uangnya segala. Jadi begini, untuk pembicaraannya, kita sepakati dulu skenarionya apa yang akan digunakan, berapa banyak gas yang akan diproduksi, bagaimana cara mengirim gasnya apakah dengan cara LNG atau pipa. Karena itu jelas harganya lain-lain," terangnya.

Katanya, jika nanti gas yang diproduksi sudah bisa dijual, maka harga gas yang melalui LNG atau pipa akan sama saja. Bedanya, gas yang dikirim dengan LNG akan memiliki jangkauan yang lebih jauh lagi, walaupun pembangunannya membutuhkan biaya yang besar.

Pertamina sendiri menargetkan dapat segera memproduksi gas di East Natuna paling cepat pada 2017 mendatang. Karena diperkirakan pengembangannya membutuhkan waktu 5-10 tahun.

"Saya kira pengembangannya kalau dimulai dari sekarang, katakan seperti itu ya, saya kira 5-10 tahun sudah bisa on-stream. Paling cepat 2017-lah, tapi saya kira 10 tahunlah. Itu kan susah pengembangannya, ada kandungan CO2-nya besar," paparnya.

Husen menjelaskan, kandungan CO2 di East Natuna sangatlah besar. Perbandingan antara gas yang dibutuhkan dengan CO2-nya bisa mencapai 1:3.

"Bayangkan saja kalau sekarang kita memproduksi 1 bcf gas, kita juga memasukkan 3 bcf CO2. Jadi kan luar biasa itu, mungkin tidak ada di dunia yang melakukan proyek sebear itu, ini uniknya proyek tersebut," tambahnya.

Dilanjutkan olehnya, sejauh ini pihak Pertamina masih membicarakan beberapa hal lebih lanjut dengan ketiga partnernya di blok East Natuna tersebut, yakni Total E&P Activities Petrolieres, Esso Natuna Ltd (Anak Usaha Exxon), dan Petronas. Pembicaraan tersebut terkait skenario yang akan dijalankan dalam mengembangkan gas di sana.


(nrs/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads