Beragam Masalah Klasik Masih 'Hantui' Dunia Migas RI

Beragam Masalah Klasik Masih 'Hantui' Dunia Migas RI

- detikFinance
Kamis, 08 Sep 2011 15:44 WIB
Beragam Masalah Klasik Masih Hantui Dunia Migas RI
Jakarta - Sejauh ini masalah-masalah eksternal menyangkut cuaca, unplanned shutdown (penghentian produksi yang tak terencana), tumpang tindih lahan, hingga masalah perizinan masih menjadi masalah klasik bagi pemerintah untuk mengejar target produksi minyak yang ditetapkan pemerintah tiap tahunnya.

Deputi Operasional Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP Migas), Rubi Rubiandini mengaku tidak bisa mengatasi hal tersebut. Oleh karena itu, hingga saat ini sangat sulit seali mengejar target produksi yang ditetapkan dalam APBN-P 2011 sebesar 945 ribu barel per hari (bph). Mengingat hingga saat ini, rata-rata produksi minyak nasional baru mencapai 905 ribu bph.

"Ini kan ada masalah eksternal yang tidak di-planning. Kalau hal itu tidak kondusif maka akan sulit mencapai produksi minyak yang ditargetkan. Semoga saja itu tidak muncul secara tiba-tiba, sehingga kita bisa tetap mendukung program pemerintah," harap Rubi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rubi memberi contoh masalah yang kerap terjadi adalah pada tanah-tanah yang sulit dibebaskan, fasilitas produksi yang tidak bisa dijalankan karena tidak adanya izin, tumpang tindih lahan dalam sebuah sumur migas, hingga perizinan untuk pemakaian hutan.

"Nah, itulah kendala eksternal yang tidak bisa dikontrol, walaupun kita sudah mendisain perencanaan-perencanaan untuk mengejar target minyak. Misalnya, di CPI, kita itu ingin ngebor 50 sumur, tapi sekarang baru 14 sumur yang dibor. Itu karena ada tanah yang tidak bisa jalan," terangnya.

Dilanjutkan olehnya, untuk mengejar target yang ditetapkan pemerintah tahun depan sebesar 950 ribu bph. Pihaknya mengaku akan segera memajukan persiapan-persiapan pengembangan ataupun eksplorasi dan eksploitasi migas lebih maju lagi.

"Memang agak berat ya (untuk capai 950 ribu bph di tahun depan). Tapi saya usahakan untuk pindahkan kegiatannya lebih maju. Kalau lihat dari trennya yang ada, itu hanya 930 ribu bph kemungkinan. Tapi akan kita usahakan untuk mengejar," tegas Rubi.

Menanggapi permintaan presiden SBY untuk produksi minyak 1 juta barel sebelum 2013, Rubi mengatakan hal tersebut bisa dicapai namun bukan dalam hal produksi rata-rata tahunan. Tapi hanya pada produksi harian yang saat ini fluktuasinya terus naik-turun.

"Kalau permintaan Presiden itu untuk bisa sampai 1 juta barel tapi bukan rata-rata tahunan ya. Tapi itu fluktuasi hariannya," tanggapnya.

"Namun permasalahannya, jika kita menggeser jadwal pekerjaan kita lebih maju, konsekuensinya cost recovery akan semakin besar. Sementara di sini cost recovery selalu dilarang untuk naik oleh pihak DPR. Jadi ini bukan hal yang mudah," aku Rubi.

(nrs/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads