Pemerintah Tak Berani Pasang Target Ambisius Produksi Minyak

Pemerintah Tak Berani Pasang Target Ambisius Produksi Minyak

- detikFinance
Kamis, 15 Sep 2011 14:14 WIB
Pemerintah Tak Berani Pasang Target Ambisius Produksi Minyak
Jakarta - Masih banyaknya rintangan di sektor migas membuat pemerintah tak berani memasang target ambisius untuk produksi minyak. Tahun depan, target produksi minyak yang dipasang sangat moderat 950 ribu barel per hari.

Menteri Koordinasi Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa menilai target produksi minyak sebesar 950 ribu barel per hari serta patokan harga minyak Indonesia (ICP/Indonesian Crude Price) sebesar US$ 90 per barel sudah merupakan angka yang moderat dan bisa dijadikan target untuk tahun depan.

Hal ini disampaikan Hatta ketika menghadiri Rapat Kerja bersama anggota Komisi VII DPR yang dilakukan di Gedung DPR, Senayan,Jakarta, Kamis (15/9/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya kira di tahun depan, kita bisa meningkatkan produksi mencapai 950 ribu per hari (bph). Jadi ini angka yang moderat, dan tentunya akan dilakukan strategi-strategi untuk upaya peningkatan produksi migas melalui optimalisasi pengawasan dan mengurangi unplanned shutdown," kata Hatta.

Hatta meyakini, meskipun banyak yang menilai produksi minyak tahun depan tidak akan mencapai angka 950 ribu bph mengingat makin tingginya penurunan alamiah (decline rate) serta kendala cuaca dan sebagainya, pihak KKKS (Kontraktor Kontrak Kerjasama) dan pihak BP Migas (Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas) berusaha untuk mengejar target tersebut.

Demikian juga halnya dengan patokan ICP sebesar US$ 90 per barel untuk tahun depan, dimana angka tersebut sudah diperhitungkan pemerintah melalui perkiraan perubahan asumsi makro dunia di tahun 2012.

"Kita bisa prediksikan adanya ketidakinginan dunia ketika pertumbuhan melambat, namun harga crude (minyk mentah) naik. Akibatnya permintaan minyak bumi juga sedikit menurun. Selain itu akan ada diversifikasi energi, seperti misalnya konsumsi batubara yang meningkat, atau Jepang yang saat ini membutuhkan banyak pasokan gas selepas krisis nuklir yang melandanya," ungkap Hatta yang saat ini menjadi Menteri ESDM ad Interim.

"Banyak yang memprediksi, seperti OPEC memperkirakan harga minyak dunia nanti US$ 80-90, atau Reuters US$ 60-180, banyak perkiraan-perkiraan. Jadi kita harus mampu membuat perhitungan terhadap berbagai macam keadaan global, suplai dan demand-nya. Maka itu pemerintah menetapkan US$ 90 untuk harga minyak Indonesia itu sudah moderat," nilainya.

Menanggapi penjelasan Hatta, secara keseluruhan pihak Komisi VII DPR menyatakan persetujuan untuk RAPBN-P 2012 terhadap kedua asumsi tersebut. Namun, beberapa catatan sempat dilontarkan oleh para anggota dewan.

Misalnya, Satya W. Yudha dari Fraksi Partai Golkar yang terus meminta pemerintah agar pihak KKKS bisa mengangkat produksinya di tahun depan agar target dapat tercapai.

Pemerintah juga diminta untuk transparan kepada masyarakat jika target ini nantinya tidak bisa atau sulit dicapai.

Anggota Komisi VII DPR lainnya yang berasal dari Fraksi Hanura, Ali Kastela, mengatakan agar pemerintah membahas lebih dalam terkait kebijakan untuk mengejar target produksi minyak 950 ribu bph di tahun depan.

(nrs/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads