Investor Puas Atas Garansi Pembelian Listrik Geothermal dari PLN

Investor Puas Atas Garansi Pembelian Listrik Geothermal dari PLN

Whery Enggo Prayogi - detikFinance
Selasa, 20 Sep 2011 10:30 WIB
Investor Puas Atas Garansi Pembelian Listrik Geothermal dari PLN
Jakarta - Garansi pembelian listrik yang berasal dari pembangkit tenaga pasar bumi (geothermal) oleh PLN, dinilai pelaku bisnis sudah tepat. Termasuk jaminan pemerintah yang menjaga pembelian, saat PLN tidak melakukan tugasnya.

Demikian disampaikan Komisaris Utama PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), Hilmi Panigoro, yang juga menjabat sebagai Ketua Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), di Energy Tower, SCBD, Jakarta, Senin (19/9/2011) malam.

"Tarif geothermal sekarang oleh pemerintah sudah cukup ekonomis, dan Permen (Peraturan Pemerintah) menggaransi performance PLN, itu sudah cukup membantu," ujar Hilmi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menambahkan, terbitanya Permen menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam mengembangkan energi terbarukan. Selain itu akan jaminan dari investor bahwa listrik dari panas bumi akan diserap BUMN listrik ini, dan jika PLN lalai, maka pemerintah siap membayar.

"PLN akan bayar seluruh tagihannya, dan kalau tidak, pemerintah yang akan tanggung pemerintah," jelasnya.

Menurut Hilmi, pembangkit listrik panas bumi paling berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia. Meski investasi teknologi yang harus dibenamkan lebih besar, namun mendukung kelangsungan energi karena tidak lagi bergantung pada fosil.

"(energi terbarukan) semua kita perlu, tapi geothermal yang paling besar, ekonomis dan dapat diekspor. Saat ini, seluruh perusahaan energi fosil juga sudah masuk geothermal. Sekarang (geothermal) sudah mencapai 1.000 MW, tapi investasi memang besar, lebih dari batubara karena menggunakan teknologi baru," ungkapnya.

Lalu bagaimana energi terbarukan lain, macam nuklir, gelombang laut ataupun angin? "Nuklir memang dalam jangka panjang akan lebih murah, karena bahan bakunya banyak. Namun masih butuh accepbility, karena dimanapun kita bangun pasti orang di sekitar akan takut, seperti Fukusima kemarin," tegas Hilmi.

"Gelombang laut, masih mahal sekali (investasi) meski potensinya besar. Teknologi turbin yang men-caputure gelombang, mahal. Angin, rada-rada kurang kenceng. jadi energi angin masih 'angin-anginan'. Mungkin ada angin besar di Yogya Selatan dan NTT, tapi kita butuhnya di Pulau Jawa," imbuhnya.

(wep/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads