Demikian disampaikan Komisaris Utama PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), Hilmi Panigoro, yang juga menjabat sebagai Ketua Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), di Energy Tower, SCBD, Jakarta, Senin (19/9/2011) malam.
"Tarif geothermal sekarang oleh pemerintah sudah cukup ekonomis, dan Permen (Peraturan Pemerintah) menggaransi performance PLN, itu sudah cukup membantu," ujar Hilmi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"PLN akan bayar seluruh tagihannya, dan kalau tidak, pemerintah yang akan tanggung pemerintah," jelasnya.
Menurut Hilmi, pembangkit listrik panas bumi paling berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia. Meski investasi teknologi yang harus dibenamkan lebih besar, namun mendukung kelangsungan energi karena tidak lagi bergantung pada fosil.
"(energi terbarukan) semua kita perlu, tapi geothermal yang paling besar, ekonomis dan dapat diekspor. Saat ini, seluruh perusahaan energi fosil juga sudah masuk geothermal. Sekarang (geothermal) sudah mencapai 1.000 MW, tapi investasi memang besar, lebih dari batubara karena menggunakan teknologi baru," ungkapnya.
Lalu bagaimana energi terbarukan lain, macam nuklir, gelombang laut ataupun angin? "Nuklir memang dalam jangka panjang akan lebih murah, karena bahan bakunya banyak. Namun masih butuh accepbility, karena dimanapun kita bangun pasti orang di sekitar akan takut, seperti Fukusima kemarin," tegas Hilmi.
"Gelombang laut, masih mahal sekali (investasi) meski potensinya besar. Teknologi turbin yang men-caputure gelombang, mahal. Angin, rada-rada kurang kenceng. jadi energi angin masih 'angin-anginan'. Mungkin ada angin besar di Yogya Selatan dan NTT, tapi kita butuhnya di Pulau Jawa," imbuhnya.
(wep/ang)











































