Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan pemahaman atau pengertian mengenai cost recovery dalam industri migas harus dirubah menjadi investasi minyak dan gas.
"Pemahaman kita mengenai cost recovery seperti menghantui, investasi harus dirubah. Yang penting agar cost recovery digunakan secara tepat," ungkap Hatta di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Selasa (20/9/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setiap waktu, produksi minyak tidak selalu sama, begitu juga dengan kualitasnya. Hatta memberi contoh, 10 tahun lalu saat minyak Indonesia diambil maka jumlah yang diambil dan dihasilkan sama.
Sedangkan sekarang ini saat di suatu sumur dihasilkan 2 ribu barel, ternyata namun sebanyak 1.900 barelnya berisi air, sehingga hanya 100 barel yang merupakan minyak. "Airnya di-treatment, butuh biaya besar, jadi cost recovery-nya tinggi," terangnya.
Hatta mengingatkan Indonesia masih butuh peningkatan investasi, eksplorasi, dan temuan baru. Pemerintah juga harus membuat iklim investasi yang kondusif agar aliran investasi semakin baik.
"Cost recovery kita benahi, masalah tumpang tindih lahan kita benahi. itu semua dalam MP3EI itu sudah ada, yang menghambat kita lakukan perbuahan," harap Hatta.
Hatta berharap semua pihak dapat dilibatkan untuk pembenahan tersebut, misalnya seperti pemerintah daerah yang sering dikeluhkan para investor industri migas dengan banyaknya regulasi yang menghambat mereka.
"Pemda sudah dilibatkan untuk atasi masalah yang menghambat," ujarnya.
Sekali lagi dikatakan Hatta, pemerintah membutuhkan investasi, baik itu segi teknologi dan modal. Namun pihak investor harus diberi kepastian. Dengan demikian produksi migas RI nantinya dapat dikejar menuju 8 juta barel setara minyak sehari di 2025.
(nrs/dnl)











































