Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama PLN Dahlan Iskan saat ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (26/9/2011).
"Gas yang akan ekspor ke Singapura itu bisa dikembalikan kembali ke Indonesia. Tapi nggak jadi, karena memang harganya itu hampir sama dengan BBM. Bahkan lebih mahal," tegas Dahlan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"BP Migas bilang itu (gas) bisa tapi harganya jadi pertimbangan. Kita lihat harganya mahal lebih jauh di atas US$ 20. Kan sama dengan BBM atau lebih mahal dari BBM Ya nggak jadilah," jelas Dahlan.
Sebelumnya, Menko Perekonomian Hatta Rajasa menegaskan untuk tidak lagi mengekspor gas kepada Singapura. Hal tersebut mengingat kebutuhan gas bagi domestik sangat mendesak, apalagi kebutuhan gas untuk PLN.
Seperti diketahui, permasalahan ekspor gas ini sempat diangkat dalam rapat kerja oleh Wakil Ketua Komisi VII DPR, Effendi Simbolon. Kabar ekspor gas sebesar 100 mmscfd kepada Singapura seharusnya lebih diprioritaskan kepada PLN bagi pembangkit Muara Tawar. Akibat ekspor ini PLN terpaksa menggunakan BBM dan harus menanggung biaya operasi hingga Rp 6 triliun menggunakan BBM.
Dahlan mengatakan saat ini PLN memang belum bisa efisien karena persoalan pasokan bahan bakar gas atau batubara yang belum memadai, sehingga terpaksa menggunakan BMBM yang lebih mahal.
"Sekarang kan PLN kan menerangi rakyat, tapi PLN sendiri gelap. PLN seperti Perusahaan Lilin Negara. Memang seperti itu saya tidak keberatan dipanggil Perusahaan Lilin Negara. Habis memang mirip, bisa menerangi sekitar tapi membakar diri sendiri," tukas Dahlan.
(dnl/dnl)











































