"Norwegia itu sangat tertarik dalam mengembangkan hydro power di Sulawesi," ungkap Hatta usai bertemu dengan delegasi pemerintah Norwegia di kantor Kementerian bidang Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (27/9/2011).
Menurut Hatta, Norwegia telah berhasil mengembangkan hydro energy. Sekitar 80% dari energi di negara tersebut, berasal dari tenaga air. Pengembangan hydro energy diakui lebih efisien, lebih murah, dibandingkan dengan pengembangan energi panas bumi atau geothermal. Namun, dia belum menyebutkan nilai investasi yang diberikan Norwegia untuk pengembangan hydro energy di Makassar. Dia menambahkan, pemerintah masih mengkaji peluang untuk mengembangkan hydro energy di wilayah lain di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, tambah Hatta, pemerintah Indonesia dan Norwegia juga membahas tindak lanjut perkembangan program pengurangan 26% emisi gas rumah kaca hingga 2020. Hatta mengatakan, pemerintah Indonesia tetap menjaga komitmennya untuk secara bertahap mengurangi emisi gas rumah kaca. Dia menyatakan pembangunan ekonomi nasional tidak serta merta terhambat dengan adanya komitmen tersebut, serperti yang dikhawatirkan banyak pihak.
"Kita bicara pentingnya strong growth dengan protecting dari hutan kita, jadi hutan itu harus kita lihat sebagai yang dilindungi tetapi tidak juga berarti tidak bisa kita kombinasikan menjadi salah satu aktivitas ekonomi," ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Deputi Menko bidang kerjasama internasional Rizal Affandi Lukman menambahkan, kerjasama pengembangan hydro energy antara Norwegia dan Indonesia merupakan hal baru, sehingga skala yang dikembangkan masih menengah. Namun, kata dia, ke depan mengarah ke skala yang lebih besar seiring dengan ekonomi yang semakin tumbuh dan meningkat.
Pemerintah Norwegia, lanjut Rizal, mengaku puas dengan yang dilakukan pemerintah Indonesia. Peraturan presiden (Perpres) mengenai rencana aksi penurunan emisi gas rumah kaca yang sudah ditandatangani oleh Presiden diapresiasi sebagai salah satu langkah konkret pemerintah Indonesia.
Dia pun yakin upaya penurunan emisi gas rumah kaca tidak berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi. Sebagai contoh, Brazil yang mulai mengarah untuk menurunkan 27% emisi gas rumah kaca tidak berdampak negatif ke perkembangan ekonominya.
"Yang dikhawatirkan ada trade off antara menurunkan gas emisi dan pertumbuhan ekonomi jadi melambat. Tadi disinggung Indonesia tetap tumbuh dan tidak terganggu penurunan 26%," katanya.
Mengenai pendanaan untuk mendukung rencana aksi penurunan emisi gas rumah kaca, Rizal menyebutkan berbagai negara dan lembaga internasional tertarik memberikan pinjaman dan hibah kepada pemerintah Indonesia, selama dipergunakan dan difokuskan pada upaya tersebut. Untuk tahun ini, Bank Dunia memberikan hibah sekitar US$ 300 juta sebagai bentuk dukungan terhadap pemerintah Indonesia.
"Tahun ini saya lupa persisnya, tapi seingat saya Bank Dunia US$ 300 juta tahun ini, banyak negara yang partisipasi," pungkasnya.
(nia/dnl)











































