Hal tersebut dikatakan oleh Direktur Perencanaan dan Teknologi PLN, Nasri Sebayang di Jakarta, Jumat (30/9/2011).
"Kita sedang siapkan semua, RUPTL (Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik) dengan Kementerian ESDM untuk 2011-2020," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita akan tekankan terutama untuk PLTA. Kita kan punya PLTA yang harus selesai hingga 2020 itu sekitar 5.600 MW, yang akan masuk di program 10.000 MW tahap ketiga. Karena di tahap dua juga ada, yakni PLTA Asahan dan PLTA Cisokan," bebernya.
Nasri menyampaikan, Indonesia memiliki potensi listrik dari air hingga 76.000 MW. Setelah disaring dari aspek lokasi dan bebannya, maka akan diperoleh potensi hingga 36.000 MW.
Selain itu, masih ada potensi sekitar 11.000 MW-12.000 MW yang tidak terkendala kawasan hutan lindung dan masalah lahan. Namun baru bisa dilaksanakan pada 2025 ke depan.
"Kalau yang di tahun 2020 itu bisa mencapai 5.600 MW. Sisanya nanti bisa dikerjakan berikutnya," tambah Nasri.
Menurutnya, pembangunan untuk PLTA dinilai sangat mahal dibandingkan dengan investasi untuk pembangkit listrik yang memakai minyak ataupun batubara.
Investasi yang dibutuhkan untuk pembangunan PLTA bisa mencapai US$ 2.000-US$ 2.600 per KW. Jika dibandingkan, pembangkit yang memakai minyak hanya membutuhkan US$ 500-US$ 600 dan pembangkit listrik batubara membutuhkan US$ 1.500.
Akan tetapi, Nasri menegaskan PLTA memiliki keunggulan, di mana tidak membutuhkan biaya tambahan untuk menggunakan bahan bakar. Karena sumber tenaganya berasal dari tenaga air itu sendiri.
(nrs/dnl)











































