Soal Produksi Minyak, Menteri ESDM dan BP Migas Beda Pendapat

Soal Produksi Minyak, Menteri ESDM dan BP Migas Beda Pendapat

- detikFinance
Selasa, 04 Okt 2011 15:57 WIB
Soal Produksi Minyak, Menteri ESDM dan BP Migas Beda Pendapat
Jakarta - Produksi minyak Indonesia tengah anjlok dan terus menurun. Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh optimistis target produksi minyak 945 ribu barel per hari bakal tercapai, namun Badan Pelaksana Kegiatan Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) pesimistis.

"Ya, itu adalah sidang hasil kabinet. Sejak Juli sudah ada tanda-tanda penguatan (produksi minyak)," kata Darwin saat ditemui di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (4/10/2011).

Darwin menyampakan, dirinya, bersama BP Migas, dan TP3M (Tim Pengawas Peningkatan Produksi Minyak dan Gas Bum) terus bertemu dan melakukan evaluasi mengenai perkembangan produksi minyak ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Fokus kita adalah dalam jangka pendek agar kontraktor-kontraktor migas lebih memperbanyak anggaran untuk eksplorasi," tambahnya.

Menurutnya, kegiatan eksplorasi yang ditingkatkan dapat menentukan cadangan minyak yang ada. Jika kegiatan eksplorasi sangat sedikit seperti sekarang ini, maka dua-tiga tahun ke depan, cadangan minyak nasional akan berkurang.

"Untuk jangka menengah-panjang, kita mendorong Pertamina yang saat ini sudah mulai fokus pada 50 sumurnya yang selama ini masih idle. Pemerintah juga mendorong perusahaan seperti Chevron untuk percepat kegiatan EOR (Enhancement Oil Recovery/Peningkatan Produksi Minyak)," ungkapnya.

Darwin mengakui, di Indonesia saat ini sudah banyak yang terbilang tua. Jadi sekitar 50% cadangan minyak yang ada di bawah tanah akan sulit untuk didapatkan. Perlu pemakaian teknologi khusus untuk mendapatkan minyak lebih banyak.

Sementara itu, Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas BP Migas, Gde Pradnyana menyampaikan produksi rata-rata tahunan masih di kisaran 905 ribu ph.

"Di semester dua 2011 produksi minyak harian memang cenderung naik ke level 920 ribu bph - 930 ribu bph. Tapi itu masih belum cukup tinggi untuk menaikkan rata-rata produksi tahunan. Karena di semester pertama, produksi minyak rendah (level 900 ribu bph)," jelas Gde.

Sehingga kemungkinan, sampai akhir tahun ini produksi rata-rata minyak yang ditargetkan 945 ribu bph akan sulit tercapai.

(nrs/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads