Anggota Komite BPH Migas Adi Subagyo mengatakan masyarakat sampai saat ini cenderung memilih untuk membeli premium ketimbang membeli pertamax cs (non subsidi) walau kualitas oktannya lebih baik.
"Orang jika diberi pilihan antara yang murah (premium) walau ada yang mahal tapi kualitasnya lebih baik (pertamax) maka mereka pasti akan pilih yang lebih murah," ungkap Adi kepada detikFinance, Kamis (6/10/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pasti lebih ya sekitar 41-42 juta KL kalau tidak kita lakkan tindakan yang berani tidak akan mungkin. Kalau sejauh ini masih saja di-loss seperti itu, jelas akan lebih," lanjutnya.
Tindakan pemerintah yang sejauh ini hanya mengimbau agar orang mampu tidak membeli premium dinilai tidak efektif sama sekali.
"Imbauan juga kurang, sulit untuk menekan konsumsinya. Kita juga sudah melakukan tindakan pengawasan dari segi hukum terhadap penyelewengan tapi itu terus-menerus muncul di seluruh Indoneia," keluhnya.
Jika menyangkut penyelewengan BBM bersubsidi, Adi mengaku memang kewalahan untuk mengatasi hal tersebut.
(nrs/dnl)











































