Demikian disampaikan Ketua Asosiasi Pengusaha Batubara Indonesia Bob Kamandanu ketika ditemui di Jakarta, Jumat malam (7/10/2011).
"Memang ini kan hubungannya antara China-Amerika, dan China-Eropa. Kelihatannya indikasinya ekonomi akan memburuk. Tapi kami berharap, bahwa kebetulan batubara yang kita jual ke luar negeri itu untuk kebutuhan rumah tangga dan bukan untuk industri," jelas Bob.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini akan terbaca November nanti, setelah kita duduk melihat volume tahun depan baru akan kelihatan, jadi sekarang belum terbaca," ungkapnya.
Sebagai wakil dari pengusaha batubara, dirinya menyampaikan belum ada antisipasi khusus untuk hal tersebut. Sejauh ini kontrak-kontrak ekspor masih terpenuhi. Karena November nanti merupakan masa-masa negosiasi batubara akan dimulai.
"Tapi untuk tahun ini, kontrak-kontrak akan terpenuhi. Sedangkan untuk harga batubara pada saat ini cenderung stagnan US$ 120 per ton. Kadang turun atau naik, jadi masih belum bergerak jauh," tutur Bob.
Untuk tahun ini, Bob menyampaikan total produksi berkisar pada angka 340 juta ton. Untuk kebutuhan domestik dipatok pada angka 65-70 juta ton. Sisanya dipakai untuk kebutuhan ekspor.
(nrs/dnl)










































