"Kita antisipasi dari awal. Karena jadwal operasi PLTU itu mundur, maka kami akhirnya harus sewa mesin sebesar 30 MW untuk menjaga pasokan daya di Lombok," kata Satri Fanalu, General Manajer PLN Wilayah NTB di Mataram, Selasa (11/10/2011).
Ia mengatakan, PLTU 1 x 25 MW di Jeranjang itu harusnya sesuai kontrak beroperasi pada 16 Agustus 2011. Namun PLTU itu gagal operasi, karena alat utama berupa transformer dan boiler yang diimpor dari China rusak saat ujicoba. Kerusakan alat utama PLTU itu bahkan terjadi hingga tiga kali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Beban puncak kita saat ini di Lombok mencapai 124 MW, sementara daya mampu pembangkit kita mencapai 130 MW," kata Satri.
Idealnya, kata Satri daya mampu listrik PLN di Lombok harusnya 150 MW, untuk mengantisipasi kerusakan mesin. Kalau di bawah 150 MW, pemadaman bergilir tidak akan terhindarkan, jika ada mesin pembangkit yang mengalami kerusakan.
Pelanggan listrik PLN di Lombok saat ini mencapai 464 ribu pelanggan. Sebanyak 124 ribu pelanggan diantaranya adalah pelanggan baru yang listriknya terpasang mulai tahun ini. Seluruh listrik di NTB saat ini dipasok dengan pembangkit tenaga diesel.
Terpisah, Manajer Teknik PLN WIlayah NTB, Anang Wijayanta mengatakan, PLN harus menguras kantong tak kurang dari Rp 93 miliar untuk membiayai sewa mesin 30 MW, agar pasokan tetap stabil.
"Mesin itu disewa PLN dari Bima Golden, dan Kokindo. Kita sewa setahun. Kita akan perpanjang jika kita masih butuhkan," kata Anang.
Anang mengatakan, jika telah memiliki 150 MW daya listrik, maka di Lombok saja, PLN mengoperasikan mesin sewa dengan daya 82 MW. Sisanya berasal dari pembangkit milik PLN sendiri. Pembangkit itu tersebar di tiga lokasi, dua di Kota Mataram dan satu di Lombok Timur.
(hen/hen)











































