Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Djaelani Sutomo mengatakan, di 2011 Pertamina sudah semangat tinggi melakukan pembatasan konsumsi BBM subsidi kala itu. Namun ternyata kebijakan itu batal.
"Kita semenjak 2011 sudah siap melaksanakan pembatasan. Tapi kan kemarin tidak jadi, jadi semangatnya turun. Awalnya tinggi semangat kita," kata Djaelani saat ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (11/10/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita sekarang siap nggak siap harus siap," ungkap Djaelani.
Djaelani juga menambahkan, jika nantinya pembatasan BBM bersubsidi jadi dilakukan, pihaknya tidak akan melakukan penambahan impor untuk produk BBM jenis pertamax (non subsidi).
Rencananya Pertamina tinggal menaikkan produk BBM seperti premium (BBM subsidi) untuk dinaikkan kualitasnya menjadi pertamax.
"Jadi oktannya akan ditingkatkan," singkatnya.
Sejauh ini Pertamina masih mengimpor BBM berkisar 700 ribu barel. Pihaknya menegaskan tidak akan ada penambahan impor lagi jika nanti pembatasan BBM bersubsidi dilakukan. Karena nantinya akan ada peralihan konsumsi dari premium ke pertamax.
(nrs/dnl)











































