"Sekarang pelanggan prabar sudah 2,7-3 juta pelanggan. Tapi itu masih kecil sekali, sisanya menggunakan pasca bayar dari 44 juta pelanggan yang dimiliki PLN," kata Bambang Dwiyanto, Manajer Humas PLN di kantornya, Jumat malam (14/10/2011).
Pihaknya mengaku tidak bisa memaksa para pelanggan lama bermigrasi menggunakan listrik prabayar. Begitu juga bagi pelanggan yang baru. "Kita memang gak bisa memaksa mereka, kita hanya bisa rekomendasi saja," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Enaknya prabayar, kita bisa hemat listrik. Kalau prabayar digunakan, tidak akan ada lagi rekening yang tiba-tiba bengkak. Rp 200 ribu misalnya, bisa diotpimalkan, sehingga tidak bisa melebihi pemakaiann listrik sebesar biaya itu dengan menggunakan listrik prabayar," ungkap Bambang.
Dari sisi PLN, pihaknya dapat melakukan penyederhanaan back office dalam pencatatan pemakaian listrik. Dengan sistem lama pihaknya perlu melakukan 20 langkah panjang dari proses pemasangan, pencatatan, hingga pembayaran listrik. Berbeda dengan sistem prabayar yang sederhana.
Namun, sepertinya listrik prabayar yang tahun depannya ditargetkan menjadi 5 juta pelanggan ini masih terkesan "sepi peminat". Masih banyak yang belum mengerti atau belum tahu perbedaan antara pemakaian sistem pasca bayar atau prabayar. Masyarakat masih cenderung memilih cara yang lama untuk berlangganan listrik di PLN.
(nrs/ang)











































