Demikian disampaikan Komisaris Utama Medco Energi Internasional, Hilmi Panigoro ketika ditemui di acara World Renewable Energy Congress 2011, Nusa Dua, Bali, Senin (17/10/2011).
"Sekarang sudah banyak sekali investor yang menunggu di bidang renewable energy. Mereka ini masih nunggu," ugkap Hilmi yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, dirinya menanggapi positif atas akan diterbitkannya feed in tarif yang menaikkan harga sekitar 50% untuk pengembangan energi biomassa, biogas, listrik sampah, dan hidro. Ini agar investor dapat merasakan sedikit keuntungan. Karena, sebelumnya pemberlakuan tarif bagi investor terbilang sangatlah jauh dari keekonomian.
"Kalau kita gak ada feed in tariff yang keekonomian, maka gak akan jadi kan (pengembangan energi terbarukan). Mudah-mudahan setelah tarif hidro, biomass, biogas, nanti saya berharap berikutnya untuk angin dan matahari," katanya.
Dirinya juga menambahkan dibutuhkan juga insentif pajak bagi para investor yang niat mengembangkan energi terbarukan.
"Kalau masalah teknologi, energi terbarukan ini kan terus berkembang. Hari ini di Kanada ada breakhtrough, alat untuk solar cell (panel surya) memakai alat yang sangat murah dengan yield yang tinggi. Jika pemerintah menerapkan feed in tariff yang keekonomian, maka ke depannya investasi untuk energi terbarukan akan semakin murah dan juga teknologinya kan juga semakin maju," tukas Hilmi.
(nrs/qom)











































