Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Hudi Hastowo mengatakan, kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Saat ini saja banyak tenaga ahli nuklir Indonesia termasuk rekan-rekan sejawatnya yang bekerja dan mengajar di Malaysia. Sementara di sisi lain, pemerintah Indonesia masih enggan menggunakan tenaga nuklir sebagai sumber listrik.
"Kalau saya, lebih repot lagi SDM nuklir kita banyak yang pindah kesana. Mengapa tidak? sekarang banyak yang bekerja sebagai dosen, beberapa orang. Saya merasakan sudah banyak yang bekerja di Malaysia, seperti kawan saya kerja disana," kata Hudi kepada detikFinance, Senin (24/10/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hudi pun menepis adanya pemberitaan bahwa Malaysia akan membangun PLTN di kawasan perbatasan Kalimantan Barat Indonesia. Sampai saat ini negara tetangga itu masih pelit memberikan informasi dimana lokasinya.
Namun ia menuturkan secara logika seharusnya Malaysia membangun PLTN di kawasan semenanjung Malaysia bukan bagian Kalimantan Utara. Kebutuhan listrik di kawasan semanjung lebih besar dan infrastruktur jaringan listriknya pun lebih mendukung.
"Saya ketemu kawan-kawan dari Malaysia, kapanya sudah jelas. Tapi logikanya mereka membanguan di semenanjung, yang perlu itu listrik itu disana. Pihak Malaysia kalau ditanya di mana lokasinya belum jelas, mereka masih merahasiakannya," katanya.
Dikatakanya alasan mengapa Malaysia begitu serius membangun PLTN karena saat ini mereka sudah mulai merasakan ketimpangan antara pasokan dengan permintaan listrik. Padahal menurutnya kondisi yang kurang lebih sama atau lebih parah justru dialami Indonesia.
Menurutnya bagaimana pun Indonesia suatu saat akan membutuhkan listrik tenaga nuklir. Namun sayangnya kondisi sekarang masih terbuai dengan anggapan sumber energi yang dimiliki Indonesia masih sangat banyak, belum lagi adanya perlawanan dari masyarakat.
"Batan usulkan suka atau tidak suka, menjadi sulit untuk dihindarkan (PLTN)," katanya.
(hen/dnl)











































