Seperti dikutip dari Reuters, Kamis (27/10/2011), raksasa minyak Eropa itu meraup laba bersih sebesar US$ 7,2 miliar atau setara Rp 61,2 triliun (jika memakai kurs Rp 8.500 per dolar AS) pada sembilan bulan pertama tahun ini, melonjak dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Capaian ini sesuai dengan prediksi para analis. Shell menyatakan investasi besar-besaran mereka di satu proyek raksasa baru akhirnya membuahkan hasil, di tengah produksi mereka yang turun tipis 2% menjadi 3,01 juta barrels of oil equivalent (boepd).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga minyak mentah jenis Brent melompat 48% hingga triwulan III-2011 dibandingkan tahun lalu pada periode yang sama, menjadi sekitar US$ 113 per barel.
Bencana gempa di Jepang awal tahun ini membuat pembangkit nuklir mereka berhenti beroperasi, sehingga mendorong permintaan akan gas, terutama gas cair (liquefied natural gas/LNG). Shell masih menjadi pemimpin pasar dalam penjualan LNG.
Perusahaan berlogo kerang itu menyatakan penjualan LNG naik 12%, angka penjualan ini ditempel ketat oleh kompetitornya yaitu BG Group.
(ang/dnl)











































